Suami Bunuh Istri di Bogor, Ditonton Cucu: Diduga Motif Utang

Suami Bunuh Istri di Bogor, Ditonton Cucu: Diduga Motif Utang

ILUSTRASI Suami Bunuh Istri di Bogor, Ditonton Cucu: Diduga Motif Utang.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Utang membuat orang stres. Apalagi kalau tak bisa bayar. Apalagi kalau utang ke beberapa pihak.

Dikutip dari The Guardian, 23 Oktober 2023, berjudul ”I am afraid I will kill myself, like my husband”: spotlight on loan firms in Cambodia after Indigenous suicides, karya Jack Brook, disebutkan, orang berutang yang stres bisa bunuh diri atau membunuh orang.

Artikel itu mengungkap, orang berutang dan stres, lalu bunuh diri. Diungkapkan, perempuan Kamboja, Kwak Nga, masih terguncang setelah suaminyi, Nhu Laen, bunuh diri di rumahnya di Desa Prak II, Provinsi Ratanakiri, timur laut Kamboja, November 2022.

Nhu punya banyak utang. Gali lubang tutup lubang. Ia membayar utang lama dengan mengambil utang baru. Ia punya utang dari LOLC Cambodia. Itu semacam koperasi simpan pinjam yang memberikan kredit mikro kepada warga perdesaan.

Nhu adalah petani singkong yang miskin. Ia utang ke LOLC. Ketika terdesak dan harus membayar utang, ia didatangi petugas marketing LOLC, ditawari utang baru dari LOLC juga. 

Nhu mau. Ia utang dari LOLC lagi untuk membayar utang lama. Pencairan utang LOLC spontan. Saat itu juga. Namun, utang LOLC akhirnya jatuh tempo juga. Utang lama dan utang baru. Nhu sulit bayar. 

Apalagi, menurut The Guardian, bunganya 20 persen per bulan. Itu sangat tinggi. Lebih tinggi daripada rentenir di Indonesia yang sekitar 5 sampai 8 persen per bulan. 

Digambarkan, bunga utang Nhu saja per bulan setara USD170. Bagi Nhu, nilai itu sangat besar. Belum termasuk pokok utang. 

Pasutri Nhu dan Kwak menggunakan sebagian besar uang yang mereka pinjam dari LOLC Cambodia pada April 2022 untuk melunasi utang dari pinjaman mikro LOLC sebelumnya. 

Dengan sisa pinjaman (setelah dipakai untuk kebutuhan hidup), pasangan itu membeli sebidang tanah kecil untuk menanam kedelai, singkong, dan kacang mete. Nhu merasa capek jadi buruh tani. Ia ingin punya kebun. Harapannya, suatu hari nanti memberi mereka penghidupan yang lebih baik.

Namun, antara Mei 2022 dan Mei 2023, mereka diharapkan untuk membayar kembali kepada LOLC Cambodia lebih dari USD4.300. Sudah jatuh tempo. Sebagaimana tercantum dalam dokumen pinjaman mereka. Jumlah itu jauh di atas pendapatan tahunan mereka yang diperkirakan sekitar USD2.200.

Nhu selama ini hanya menghasilkan USD6 sehari dengan bekerja secara tidak tetap di ladang milik orang lain sambil berusaha mempersiapkan lahan pertaniannya sendiri. Sebab itu, ia berutang dan bertumpuk-tumpuk.

Chav Kham, kepala desa setempat, mengatakan, ”utang keluarga Nhu Laen terlalu besar jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi keluarganya. Jadi, pastilah tak bisa bayar.”

Sebenarnya, itu terjadi mismatch. Tidak cocok kalkulasi, antara harapan jangka panjang untuk mendapatkan hasil besar dari pembelian lahan dan utang yang berjangka pendek. Karena itu, Nhu tercekik tak bisa bayar. 

Akhirnya Nhu bunuh diri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: