Menjaga Api Bung Karno: 79 Tahun Megawati Soekarnoputri dan Tanggung Jawab Sejarah

Menjaga Api Bung Karno: 79 Tahun Megawati Soekarnoputri dan Tanggung Jawab Sejarah

ILUSTRASI Menjaga Api Bung Karno: 79 Tahun Megawati Soekarnoputri dan Tanggung Jawab Sejarah.-Arya/AI-Harian Disway-

SETIAP bangsa memiliki tokoh-tokoh yang tidak sekadar hadir dalam lintasan waktu, tetapi juga memikul tanggung jawab sejarah. Di Indonesia, salah seorang figur itu adalah Megawati Soekarnoputri

Pada usia yang ke-79, 23 Januari 2026, hari ini, Megawati tidak hanya diperingati sebagai presiden perempuan pertama Republik Indonesia, tetapi juga sebagai penjaga api sejarah, api yang diwariskan oleh ayahnya, Soekarno sang Proklamator.

Api yang dimaksud Bung Karno bukanlah amarah, bukan pula romantisme masa lalu. Api itu adalah kesadaran ideologis, keberanian berpihak, dan kesetiaan kepada rakyat. Dalam berbagai pidato, Bung Karno kerap mengingatkan bahwa revolusi tidak pernah selesai. 

BACA JUGA:Lain Bung Karno, Lain Prabowo Subianto: Sikap Indonesia soal Sanksi IOC

BACA JUGA:Perjuangan Megawati Mengawal Konstitusi

Ia pernah berkata, ”perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kalimat itu adalah peringatan keras tentang tantangan kekuasaan: godaan untuk lupa pada tujuan awal.

Megawati tumbuh dan berpolitik dalam bayang-bayang sejarah besar itu. Menjadi putri Bung Karno bukanlah privilese semata, melainkan beban moral yang berat. Dia mewarisi bukan hanya nama besar, melainkan juga tanggung jawab untuk memastikan bahwa api perjuangan tidak padam atau direduksi menjadi sekadar simbol.

Dalam perjalanan panjangnya, Megawati memilih jalan yang tidak selalu populer, tetapi konsisten: menjaga ideologi, menjaga arah, dan menjaga jarak dari politik yang semata-mata transaksional.

BACA JUGA:Pesan Bung Karno kepada Universitas Airlangga

BACA JUGA:Jokowi vs Megawati

Kesederhanaan hidup Megawati –termasuk cara dia merayakan ulang tahun– bisa dibaca sebagai ekspresi dari sikap ideologis itu. Di tengah budaya politik yang gemar memamerkan kekuasaan, Megawati justru menekankan makna kesederhanaan.

Sikap itu selaras dengan pandangan Bung Karno bahwa pemimpin sejati tidak hidup di atas rakyat, tetapi di tengah-tengahnya. Bung Karno pernah mengingatkan, ”pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan sebaliknya.”

Sebagai presiden dan pemimpin partai, Megawati berulang kali menegaskan bahwa politik bukan ruang mencari keuntungan pribadi. Dalam salah satu pesannya yang kerap dikutip, Megawati menyampaikan dengan tegas: ”Jangan sekali-kali punggungi rakyat. Jangan hitung untung rugi kerja politik. Jangan cari keuntungan pribadi atau kelompok dari tugas ideologis ini.”

BACA JUGA:Bung Karno, Imam Bukhari, dan Uzbekistan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: