Sektor Keuangan Jadi Penopang Optimisme Ekonomi Jatim 2026

Sektor Keuangan Jadi Penopang Optimisme Ekonomi Jatim 2026

Gelaran Misi Dagang dan Investasi membuka peluang pasar baru antar pulau -Pemprov Jatim-

SURABAYA, HARIAN DISWAYProspek perekonomian Jawa Timur pada 2026 dinilai tetap menjanjikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur memandang ketahanan sektor jasa Keuangan sepanjang 2025 menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun ini, 

Stabilitas sektor keuangan Jatim hingga November 2025 tercermin dari kinerja perbankan, pasar modal, industri keuangan nonbank, serta penguatan literasi dan inklusi keuangan. Kondisi ini membuka ruang akselerasi pembiayaan, investasi, dan konsumsi masyarakat.

Dari sisi makro, inflasi Jawa Timur hingga akhir 2025 berada dalam rentang sasaran nasional. inflasi November 2025 tercatat 2,63 persen secara tahunan atau year on year (y-o-y). 

Lalu, inflasi Desember 2025 mencapai 2,93 persen yoy. “Meski terdapat tekanan musiman, inflasi yang terkendali menjadi prasyarat penting bagi stabilitas daya beli dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tahun 2026, “ kata Kepala OJK Jawa Timur Yunita Linda Sari.

Dia menilai sinergi pengendalian inflasi yang melibatkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah, dan pemerintah pusat akan terus menjadi faktor penopang stabilitas harga. Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan pasokan pangan, kelancaran distribusi, serta mitigasi risiko musiman berbasis kewilayahan.

BACA JUGA:Ekonomi Global Melambat, OJK Pastikan Keuangan Indonesia Tetap Tangguh


TPK Teluk Lamong capai kinerja positif semester 1 pada 2025, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan di lingkup logistik nasional maupun internasional. - Pelindo Terminal Peti Kemas Teluk Lamong - Pelindo

Pasar Modal Berpotensi Kian Dalam

Pasar modal juga diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Jatim pada 2026. Hingga November 2025, jumlah investor pasar modal terus meningkat. 

Kondisi tersebut mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pembangunan dan investasi produktif.

Jumlah investor saham di Jatim tercatat mencapai 1,1 juta Single Investor Identification (SID). Angka tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan 33,15 persen y-o-y. 

Investor Surat Berharga Negara (SBN) dan reksa dana menunjukkan pertumbuhan dua digit. “Peningkatan basis investor ritel ini menjadi sinyal positif bagi pendalaman pasar keuangan daerah,” ucap Yunita.

BACA JUGA:OJK Ajak Bangun Ekosistem Keuangan Berintegritas di Peringatan Hakordia 2025

BACA JUGA:Ini Aturan OJK Terkait Pembiayaan UMKM

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: