Ketika Emas Meroket dan Bursa Saham Morat-Marit: Geopolitik Mengalahkan Ekonomi
HARGA SAHAM yang memerah ditampilkan di Indonesia Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia) Kamis,29 Januari 2026.-Yasuyoshi Chiba-AFP-
Nah, karut-marut geopolitik itulah yang akhirnya mendongkrak harga emas.
BACA JUGA:Tip Investasi Emas Jangka Pendek 2026 saat Market Jenuh Beli
BACA JUGA:Harga Emas Antam Hari Ini Cetak Rekor Baru, Nyaris Rp2,8 Juta per Gram
Stephen Innes, pakar ekonomi dari London, menilai lonjakan harga emas kali ini mencerminkan masalah struktural yang lebih dalam. “Setelah menembus USD 5.500 di awal sesi Asia, emas tidak lagi diperdagangkan seperti komoditas,” tulisnya.
“Ia diperdagangkan seperti sebuah referendum. Bukan tentang inflasi. Bukan tentang suku bunga. Melainkan tentang kepercayaan,” katanya.
Menurut Innes, emas adalah antitesis dari kepercayaan. Ketika masyarakat tidak lagi yakin pada kebijakan pemerintah, emas berubah menjadi jalan alternatif untuk ’’mengamankan diri.’’ Emas tidak lagi menjadi aset lindung nilai semata. “Ini bukan ketakutan akan resesi,” tulisnya. “Ini adalah keraguan terhadap pengelolaan mata uang,” tambah Innes.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pergerakan dolar AS yang melemah. Tekanan pada dolar muncul di tengah spekulasi bahwa Trump justru tidak keberatan melihat mata uang cadangan dunia itu melemah. Pelemahan dolar memberi dorongan tambahan bagi harga emas dan perak, yang juga mencetak rekor baru.

KONSUMEN EMAS memilih perhiasan di sebuah toko di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, 29 Januari 2026. Harga emas juga cenderung meroket.-Istimewa-
Rapat kebijakan Federal Reserve, Kamis, 29 Januari 2025, pun berakhir tanpa kejutan berarti. Mereka tetap mempertahankan suku bunga. Untuk memantau data dan perkembangan selanjutnya, kata Kepala The Fed Jerome Powell.
Tapi, perhatian investor kini lebih tertarik pada isu yang lain: siapa yang akan ditunjuk Trump sebagai gubernur The Fed berikutnya saat Powell lengser pada Mei.
Matthias Scheiber dan Rushabh Amin dari Allspring Global Investments menyebut fokus pasar tetap pada penunjukan ketua The Fed yang baru. “Ekspektasi umumnya mengarah pada figur yang lebih dovish untuk menggantikan Jerome Powell,” tulis mereka. Sosok dovish itu berarti menyukai suku bunga rendah, menggenjot ekonomi, dan memilih mengurangi pengangguran ketimbang memerangi inflasi.
Harapan penurunan suku bunga inilah yang ikut menopang reli aset berisiko dan logam mulia.
Ketegangan geopolitik juga mendorong harga minyak naik lebih dari satu persen. West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level tertinggi sejak September 2025. Sementara Brent berada di posisi tertinggi sejak Juli 2025. Pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan minyak.
Di ranah pasar saham global, respons lebih variatif. Bursa Hong Kong, Shanghai, Singapura, Mumbai, dan Seoul ditutup menguat. Tokyo bergerak datar. Sebaliknya, Sydney, Wellington, Taipei, dan Bangkok melemah. Di Eropa, London dan Frankfurt dibuka naik tipis, sementara Paris justru turun.
Asia Tenggara juga punya respons sendiri. Bursa Manila jatuh setelah data menunjukkan pertumbuhan ekonomi Filipina tahun lalu adalah yang paling lambat sejak 2011, di luar masa pandemi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: