Gaya Hidup Slow Living Selama Ramadan, Fokus Ibadah dan Kesehatan Mental
Dengan menerapka slow living, pikiran menjadi lebih jernih, emosi lebih stabil, dan tingkat stres menurun. --iStock

Menerapkan slow living dapat meningkatkan kondisi kesehatan tubuh dan pikiran. --iStock
Penerapan slow living selama Ramadhan juga berdampak signifikan terhadap kesehatan mental. Hal itu dapat mengurangi tekanan jadwal, membatasi konsumsi media sosial, dan memperbanyak waktu hening. Slow living mampu membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.
Pola tidur harus lebih teratur antara sahur, ibadah malam, dan istirahat yang cukup. Itu dapat membantu stabilitas emosi.
Lakukan aktivitas sederhana. Seperti berjalan santai menjelang berbuka atau menikmati waktu bersama keluarga. Tanpa gangguan gawai. Semua itu menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis.
BACA JUGA:Refleksi Diri: Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Bersih
BACA JUGA:Mitos dan Fakta Seputar Persiapan Ramadhan
Kondisi mental yang lebih tenang turut mendukung kualitas ibadah. Ketika pikiran tidak dipenuhi beban berlebih, fokus spiritual menjadi lebih mendalam dan bermakna.
Menjaga Kesehatan Fisik Secara Seimbang

Slow living dapat membuat seseorang menghargai hal-hal kecil yang mana bisa meningkatkan kepuasan hidup secara keseluruhan. --iStock
Slow living bukan berarti pasif. Melainkan menjalani aktivitas secara sadar dan seimbang. Selama Ramadhan, pola makan teratur saat sahur dan berbuka, konsumsi gizi seimbang, serta hidrasi yang cukup dapat menjadi kunci menjaga energi tubuh.
Olahraga ringan seperti peregangan, yoga, atau jalan kaki setelah berbuka dapat membantu menjaga kebugaran. Tanpa menguras tenaga.
Dengan ritme yang lebih tenang, tubuh memiliki kesempatan untuk pulih dari kelelahan kronis yang mungkin terjadi di luar bulan Ramadan.
BACA JUGA:7 Tip Menjaga Kesehatan Selama Puasa Ramadhan 2025
BACA JUGA:Keutamaan Ramadhan Sebagai Bulan Penuh Berkah
Selain sebagai periode ibadah, pendekatan itu menjadikan Ramadan memiliki fungsi positif lain. Yakni menjadi fase pemulihan fisik dan mental secara menyeluruh.
Membangun Kebiasaan Berkelanjutan
Salah satu nilai penting dari slow living selama Ramadan adalah keberlanjutannya setelah bulan suci berakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: