Refleksi Hari Pers Nasional (3-Habis): Podcast Layak Jadi Produk Pers

Refleksi Hari Pers Nasional (3-Habis): Podcast Layak Jadi Produk Pers

CLOSE THE DOOR, podcast milik Deddy Corbuzier, menjadi paling populer dan banyak didengarkan oleh masyarakat Indonesia.-Boy Slamet-

Menurutnya, podcast merupakan fenomena jurnalisme kreatif. Kian diminati lantaran menyajikan informasi secara menarik. Dengan demikian, peluang podcast menjadi produk pers pun terbuka lebar.

Titik lantas memaparkan perbandingan produk pers dulu dan sekarang. Dulu. produk pers masih amat konvensional. Teknologi media massa bersifat satu arah. Terlihat gamblang perbedaan antara produsen dan konsumen berita. 

BACA JUGA:Di Hari Pers Nasional, Cak Imin Ingatkan Peran Pers: Penjernih Informasi, Bukan Penambah Kebisingan

BACA JUGA:Peringati Hari Pers Nasional, Khofifah: Pers Harus Jadi Penjernih Informasi Ditengah Disrupsi Digital

Kala itu, berita hanya diproduksi oleh institusi jurnalistik karena proses produksi dan distribusi berita biasanya membutuhkan modal yang besar. Hanya perusahaan saja yang mampu menjalankan hal tersebut. 

Berita pun hanya dihasilkan oleh seseorang yang memiliki kualifikasi sebagai jurnalis. Peran jurnalis menjadi sentral dalam menentukan apakah sebuah informasi memiliki news value. Begitu juga dengan kebenaran berita dari informasi. 

Tetapi, kini semuanya berubah signifikan. Perkembangan teknologi menunjukkan bahwa siapa pun dapat bermain dengan media. Tidak ada sekat antara produsen dan konsumen. 

“Siapa saja boleh memproduksi informasi sekreatif mungkin. Bahkan sudah tidak terpaku oleh lisensi profesi,” terang pakar media itu. 

Namun, imbuh Titik, tidak semua podcast dapat dianggap sebagai produk pers. Podcast dapat menjadi produk pers jika memenuhi prinsip-prinsip jurnalisme. Meski sejatinya, prinsip jurnalisme dalam jurnalisme kreatif memiliki kesamaan dengan jurnalisme konvensional. 

Agar podcast menjadi produk pers, elemen kontennya harus mengandung fakta kebenaran. Kemudian verifikasi informan untuk cover both side. Artinya, tidak boleh ada keberpihakan ke satu pihak tertentu. 

Podcaster harus memberi ruang pada pihak-pihak terkait untuk memberikan pandangan dan pendapatnya. Ketika konten membela satu pihak, maka informasi yang disampaikan tidak ideal. “Podcast sebagai produk pers harus netral. Tidak menghakimi,” tambah dosen ilmu komunikasi itu.  

Di sisi lain, podcast juga dimanfaatkan oleh para politisi. Terutama mereka yang punya jabatan di pemerintahan. Di Kota Surabaya, misalnya, channel YouTube CakJ1 milik Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menjadi salah satu yang terpopuler. 

Awalnya, Cak Ji memang aktif menjadikan kegiatan sidak untuk konten media sosial. Bahkan, kerap viral dan menjadi isu nasional. Kemudian tim medianya merambah ke podcast dalam beberapa waktu belakangan.

Galih Dwi Saputra, anggota tim media Cak Ji, menganggap podcast sangat efektif untuk mendongkrak citra tokoh publik. Selain itu juga membuka peluang bisnis baru, yakni clipper. Clipper adalah pekerjaan memotong video dari podcast atau livestream sesuai kebutuhan yang diperlukan. Namun, risikonya juga besar. Fakta rawan dibelokkan oleh oknum dengan tidak menghadirkan konteks utuh sebuah video. “Itu yang bahaya karena bisa memengaruhi opini publik juga,” tegasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: