Keras Bekerja, tapi Tak Kunjung Kaya: Ironi Perempuan Indonesia Kini
ILUSTRASI Keras Bekerja, tapi Tak Kunjung Kaya: Ironi Perempuan Indonesia Kini.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
JALAN KELUAR
Orang tua kita dulu bisa memiliki aset karena hidup dalam ekosistem yang mendukung kesabaran. Mereka punya apa yang saya sebut institusi waktu, keluarga, sekolah, komunitas yang mengajarkan bahwa nilai sejati tak datang cepat. Menabung di celengan, menanam pohon, semua mengajarkan menunggu sebagai strategi.
Hari ini institusi waktu runtuh. Aplikasi berteriak cair sekarang, cuan instan. Semua serba-now. Sabar adalah strategi, bukan kelemahan. Namun, sistem ekonomi hari ini justru menghukum yang sabar.
Menyalahkan perempuan yang kurang literasi adalah cara berpikir malas. Ini soal struktur.
Pertama, regulasi ketenagakerjaan harus menjangkau ekonomi gig. Perlindungan sosial harus portabel, bisa dibawa ke mana pun pekerja bekerja.
Kedua, kebijakan harus mengakui beban ganda perempuan. Skema perlindungan maternitas serta transparansi algoritma yang benar-benar mendukung pengasuhan, bukan fleksibilitas semu yang justru menambah beban. Transparansi itu juga tentang kesejahteraan, siapa mendapat order dan berapa besar insentif.
Ketiga, literasi keuangan perlu diperluas. Tidak sekadar mengajarkan berhemat, tetapi membangun daya tahan psikologis terhadap godaan instan. Bukan juga sekadar hafalan kosong, melainkan pembentukan karakter yang kokoh.
Seorang teman bercerita tentang ibunya yang dulu menjual nasi bungkus keliling. Tiap hari ia menyisihkan seribu rupiah. Setiap bulan ia beli emas 1 gram. Butuh lima belas tahun. Kini ia punya tabungan emas untuk biaya haji. Di era ekonomi yang makin tidak pasti, kemampuan menunggu justru menjadi bentuk perlawanan paling radikal.
Ramadan mengajarkan bahwa menahan diri adalah jalan menuju kemenangan. Namun, bagaimana dengan mereka yang setiap hari menahan lapar, menahan lelah, menahan godaan pinjol, tetapi tak kunjung merasakan kemenangan?
Justru di tengah ketidakadilan struktural itulah, saatnya sabar dan institusi waktu diperkuat dan menjadi rem darurat. Maka, di bulan yang penuh berkah ini, pekerjaan rumah terbesar kita adalah bersama membangun kembali institusi waktu yang hilang.
Agar perempuan yang bekerja keras itu tak hanya bertahan hari ini, tetapi benar-benar bisa keluar dari kemiskinan. Agar anak-anak mereka tak lagi berkata: ”Tanah? Emas? Jangan mimpi!” Dan kelak, Ramadan benar-benar menjadi bulan kemenangan bagi semua. (*)
*) Meilinda Nuur Pratiwi, finance specialist dan mahasiswa S-2 PSDM, Universitas Negeri, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: