Kelas Menengah, Kemiskinan, dan Orientasi Kebijakan Ekonomi
ILUSTRASI Kelas Menengah, Kemiskinan, dan Orientasi Kebijakan Ekonomi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
KELAS MENENGAH bukan sekadar kategori pendapatan. Mereka adalah motor permintaan domestik, sumber tenaga profesional terdidik, dan penyokong legitimasi serta kapasitas fiskal negara lewat pajak dan konsumsi.
Dalam konteks Indonesia, dinamika kelas menengah dalam satu dekade terakhir berpengaruh langsung terhadap pola pertumbuhan, ketahanan konsumsi domestik, dan arah kebijakan industri dan sosial.
Pada 2024 kelompok kelas menengah (dan kelompok masyarakat yang mendekati kelas menengah) berjumlah sebesar sekitar 66,35 persen dari total populasi Indonesia. Lebih dari itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok itu menyumbang hingga 81,49 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional.
BACA JUGA:Gas Melon Hilang, Kelas Menengah Malang
BACA JUGA:Senja Kala Kelas Menengah, Alarm Kontraksi Ekonomi Global
Angka tersebut menegaskan posisi strategis kelas menengah sebagai pilar utama perekonomian domestik. Bank Dunia mencatat bahwa konsumsi oleh kelompok yang menempati strata menengah (aspiring) tumbuh pesat dalam dua dekade lalu.
Kontribusinya signifikan terhadap perekonomian melalui peningkatan pengeluaran pada pendidikan, kesehatan, dan barang tahan lama meski laju pertumbuhan dan daya beli mengalami kontraksi pasca 2019 dengan munculnya pandemi Covid.
Namun, secara agregat, kelas menengah (termasuk yang ”menuju”) memegang porsi besar terhadap konsumsi nasional dan menjadi bantalan bagi permintaan domestik. Namun, ukuran kelas menengah menurut ambang pendapatan tetap rentan terhadap guncangan ekonomi, peningkatan informalitas pekerjaan, dan inflasi yang menekan pendapatan riil.
BACA JUGA:Bahaya di Balik Merosotnya Jumlah Kelas Menengah
BACA JUGA:Kelas Menengah
Dalam satu dekade terakhir, kelas menengah dianggap sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, kontribusinya terhadap peningkatan angka konsumsi belakangan ini menunjukkan tren penurunan cukup signifikan dan relatif berimbas pada kinerja pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara.
Kerisauan terhadap menurunnya populasi kelas menengah belakangan ini menjadi bahasan utama, baik di kalangan pemerintah maupun akademisi. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga menjadi keprihatinan di beberapa negara.
Bahkan, majalah bisnis Forbes April 2023 membeberkan fakta dan data bahwa keberadaan kelas menengah Amerika Serikat (AS) telah mengalami penurunan tajam dalam kurun 50 tahun terakhir sejak tahun 1971 sampai dengan 2023.
Indikator penurunan itu tecermin dari makin menurunnya pendapatan rata-rata kelas menengah dari 61 persen menyusut ke 51 persen. Diperburuk juga oleh data bahwa porsi pendapatan agregat yang diperoleh kelas menengah AS menyusut dari sebelumnya 62 persen menjadi hanya 42 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: