The Great Shrink: Bukan Miskin, melainkan Terimpit

The Great Shrink: Bukan Miskin, melainkan Terimpit

ILUSTRASI The Great Shrink: Bukan Miskin, melainkan Terimpit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

FENOMENA the great shrink tidak hanya dialami di Indonesia. Sebagaimana dibahas dalam artikel The Truth About Affordability di The Economist (30 Desember 2025), banyak kelas menengah di negara maju kini menghadapi tekanan biaya hidup yang naik lebih cepat daripada kemampuan belanja. Itu membuat gaya hidup kelas menengah kian hari kian terimpit.

Artinya, fenomena itu bukan cerita negara berkembang yang gagal mengelola ekonomi. Ini cerita global. Tentang hidup yang pelan-pelan menyempit, bahkan ketika grafik makro terlihat baik-baik saja. Tidak ada krisis yang meledak. Tidak ada ekonomi runtuh serentak. Yang ada hanyalah rasa sesak yang perlahan makin mengimpit.

Di Indonesia, rasa itu terasa makin kuat. Orang masih bekerja. Gaji masih masuk. Jalan tetap macet, kafe tetap ramai. Namun, ada sesuatu yang berubah. Apa itu? Banyak keputusan belanja kini ditunda. Banyak pengeluaran yang dihemat. Mau beli? Dipikir dua kali.

Itulah the great shrink. Ia tidak datang seperti krisis moneter 1998. Ia bekerja halus, nyaris sopan, tetapi konsisten menekan dari banyak arah.

Secara statistik, kelas menengah Indonesia masih besar. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 sekitar 17,13 persen penduduk Indonesia masih berada dalam kategori kelas menengah berdasar pengeluaran rumah tangga. 

Angka itu menurun dari sekitar 21,45 persen pada 2019. Sebab, sebagian rumah tangga turun ke kelompok ”menuju kelas menengah”, bahkan kembali ke kelompok miskin setelah terpukul pandemi dan kenaikan biaya hidup. 

Secara klasifikasi statistik, mereka belum dianggap bermasalah. Namun, secara pengalaman hidup, banyak yang mulai ragu: apakah status ”menengah” itu masih cukup kuat untuk lima atau sepuluh tahun ke depan?

Dalam kajian ilmu sosial, kondisi tersebut dikenal sebagai relative deprivation theory (1970). Menurut pencetusnya, Ted Robert Gurr, tekanan muncul bukan karena orang jatuh miskin, melainkan karena jarak antara harapan dan kenyataan perlahan makin melebar.

Dulu, kerja keras terasa punya arah. Sekarang, kerja keras sering terasa seperti sekadar bertahan. Banyak hal yang dulu dianggap normal –liburan, sekolah anak yang layak, cicilan kendaraan– kini terasa berat meski belum sepenuhnya mustahil.

Itulah sebabnya, banyak kelas menengah yang merasa capek tanpa tahu harus mengeluh ke siapa. Mereka tidak miskin. Tapi, juga tidak merasa aman. Hidup tetap bergerak, tetapi ruang bernapas makin sempit.

Kajian teori kedua itu membantu menjelaskan posisi mereka secara struktural. Ekonom Paul Krugman menyebut kondisi tersebut sebagai the squeezed middle –kelas menengah yang terjepit dari dua arah.

Mereka tidak cukup miskin untuk mendapat santunan dan perlindungan. Tapi, juga tidak cukup kaya untuk kebal. Subsidi sering melewati mereka. Pasar menganggap mereka masih mampu. Akhirnya, banyak tekanan hidup yang terpaksa ditanggung sendiri.

Di Indonesia, gejala itu mudah dikenali dalam keseharian. Bantuan sosial fokus ke miskin ekstrem, itu penting. Namun, kelas menengah harus mengelola sendiri kenaikan berbagai biaya hidup. Misalnya, biaya pendidikan, obat-obatan, dan perumahan harus disokong dengan bantalan yang makin tipis.

Responsnya bukan protes keras. Yang ada justru adaptasi. Menunda beli rumah. Turun kelas sekolah. Mengencangkan ikat pinggang tanpa banyak koar-koar. Secara sosial terlihat baik-baik saja, padahal di dalam penuh hitung-hitungan yang melelahkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: