The Great Shrink: Bukan Miskin, melainkan Terimpit
ILUSTRASI The Great Shrink: Bukan Miskin, melainkan Terimpit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ada satu ciri khas the great shrink yang sering luput dibaca. Orang tampak tenang di luar, tapi lelah di dalam. Obrolan dan ritme hidup tetap santai. Senyum tetap ada. Namun, kepala terus bekerja, berpikir keras, menimbang mana yang bisa ditunda, mana yang terpaksa dikorbankan.
Bahkan, keputusan kecil kini terasa berat. Mau makan di luar atau masak di rumah. Mau ngopi di luar atau beli kopi saset. Mau daftar les tambahan atau cukupkan yang ada. Hidup memang berjalan, tapi terasa berat, tidak mengalir.
Pada titik itu, penting menegaskan satu hal: the great shrink bukan kegagalan pribadi. Banyak kelas menengah yang menyalahkan diri sendiri –merasa kurang pintar bekerja, kurang cakap mengatur uang, atau kurang mampu beradaptasi.
Padahal, tekanan yang mereka hadapi bersifat struktural. Secara psikologis, kesadaran itu penting, sebagai pengaman agar kelelahan tidak berubah menjadi rasa bersalah permanen.
Solusi berikutnya adalah mengubah definisi aman. Selama ini aman selalu dimaknai sebagai terus naik kelas. Padahal, dalam hidup yang menyempit, aman sering kali berarti tidak tergelincir.
Ada pula solusi kolektif yang sering dihindari: mulai bersuara. Bukan menuntut kemewahan, melainkan keadilan beban. Ketika kelas menengah terus memikul tekanan sendirian, yang terkikis bukan hanya daya beli, melainkan juga kepercayaan pada sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Indonesia belum sampai titik krisis. Namun, tanda-tanda itu ada. Kelas menengah masih berdiri, tetapi berdiri di ruang yang makin sempit. Salah langkah sedikit, risikonya besar.
Jika the great shrink ingin diredam, arah kebijakannya sebenarnya cukup jelas. Pemerintah perlu lebih jujur mengakui kelas menengah sebagai kelompok yang rentan turun kelas, bukan sekadar diasumsikan ”masih aman”.
Fokus kebijakan tidak cukup berhenti pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada upaya menahan biaya hidup yang kaku –pendidikan, kesehatan, dan transportasi– yang selama ini menjadi sumber tekanan paling nyata.
Di saat yang sama, negara perlu menyediakan jaring pengaman ketika rumah tangga jatuh satu tingkat sebelum benar-benar miskin, sekaligus memperbaiki kualitas pekerjaan dan rasa aman kerja.
Ruang dengar yang nyata bagi kelas menengah juga penting agar beban hidup mereka tidak terus dipikul sendirian. Itu bukan janji kemewahan, melainkan usaha menjaga agar hidup tetap bisa bernapas. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: