Mikroplastik Mengintai Kita (4-Habis): Bergandeng Tangan untuk Kebersihan

Mikroplastik Mengintai Kita (4-Habis): Bergandeng Tangan untuk Kebersihan

TABUNGAN SAMPAH dibawa dengan sepeda listrik oleh warga ke Bank Sampah Ceruta Surabaya.-Najwa Rana-Harian Disway-

Pemerintah tentu sudah membuat beragam upaya untuk mengatasi pemasalahan sampah plastik di Surabaya. Namun, masyarakat yang mengamatinya setiap hari, merasa bahwa pengolahan sampah plastik di Surabaya belum optimal.

BANYAK program yang dirancang oleh pemerintah, salah satunya oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Upaya mengurangi sampah plastik dilakukan mulai dari hulu, yakni di rumah-rumah warga melalui lingkungan kampung. 

Misalnya, pada Kampung Iklim dan Pancasila. DLH menjalin kerja sama dengan 1.361 RW untuk menggerakkan warga dalam edukasi pemilahan sampah. Pengurangan sampah plastik penting dilakukan untuk mengurangi limbah mikroplastik.

“Harapannya, sampah plastik bisa didaur ulang dan tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), lalu terpapar oleh panas matahari lalu menjadi mikroplastik yang hanyut ke sungai atau laut,” ujar Wasis Sutikno, Kepala Bidang Kebersihan dan Pemberdayaan DLH Kota Surabaya, kepada Harian Disway, 18 Februari 2026.

BACA JUGA:Mikroplastik Mengintai Kita (3): Berjibaku Melawan Sampah Plastik

BACA JUGA:5 Alat Dapur Mengandung Mikroplastik, Bahaya Kesehatan Mengintai

Sosialisasi kepada masyarakat juga digalakkan untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah, pentingnya memilah sampah, dan mengajak warga menabung di Bank Sampah. Selain itu, DLH juga mengoptimalkan pengolahan sampah plastik ramah lingkungan. Instansi itu bekerja sama dengan PT. Suparma Tbk. 

DLH pun menggelar edukasi kepada masyarakat dan pelajar di setiap sekolah untuk menggalakkan penggunaan wadah makanan berbahan stainless steel. Edukasi itu untuk mengurangi pelepasan mikroplastik dicuci. 

Dinas juga memaksimalkan pengolahan sampah plastik. Awalnya, sampah plastik dihancurkan. Lalu diproses menjadi Refused Derived Fuel (RDF) yang merupakan bahan bakar untuk menjalankan mesin boiler. 

“Abu hasil pembakaran tadi dicampur dengan semen untuk diolah menjadi paving, batako, maupun genteng. Prosesnya pun dipastikan sudah memenuhi standar agar tidak mencemari lingkungan,” tambahnya.


WARGA MEMANCING ikan di tepian Kali Surabaya pada suatu sore. Sungai dan ikan di sungai itu juga rawan terpaapar mikroplastik.-Ilmi Bening-Harian Disway-

Saat ini, DLH mengoptimalkan bank sampah yang memiliki nilai ekonomis. Setiap sampah yang disetor bisa menghasilkan rupiah. Kemudian, melakukan penelitian mikroplastik di Surabaya yang menggaet Laboratorium Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan sudah dimulai sejak akhir 2025.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan PSEL (Pengolahan Sampah untuk Energi Listrik) menjadi strategi utama dalam mengatasi masalah sampah, termasuk sampah plastik. 

Keberadaan PSEL dan PLTSa memungkinkan volume sampah yang tertangani menjadi lebih besar. Hal itu untuk mencegah penumpukan yang terlalu lama di tempat sampah warga. Juga untuk mengurangi paparan panas matahari pada tumpukan plastik di TPA yang berisiko terurai menjadi mikroplastik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: