Mikroplastik Mengintai Kita (3): Berjibaku Melawan Sampah Plastik

Mikroplastik Mengintai Kita (3): Berjibaku Melawan Sampah Plastik

CELIA SIURA (dua dari kanan) berkolaborasi dengan rumah sakit untuk menggalakkan popok reusable.-Instagram @mumbi.id-

Masyarakat tidak tinggal diam. Mulai lingkup keluarga hingga skala besar, masyarakat sudah berupaya mengurangi sampah plastik. Ada yang membuat produk daur ulang sampai reusable.

DATA Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat bahwa jumlah sampah plastik di Surabaya adalah yang terbesar kedua setelah sampah sisa makanan. Persentasenya 16,51 persen. 

Jika dibandingkan dengan kawasan lainnya, sampah rumah tangga mencapai persentase paling tinggi. Yakni, 86,22 persen. Maka, upaya pengurangan sampah plastik perlu dilakukan dari lingkup keluarga. Edukasi tentang pemilahan, pembuangan, dan pengelolaan sampah perlu disosialisasikan untuk warga Kota Surabaya di segala usia. 

Itu dilakukan warga Kampung Iklim Pondok Manggala. Di beberapa spot, tersedia tempat sampah khusus yang digunakan untuk menaruh botol plastik di Kotak Sedekah Sampah. Warganya pun rajin menabung di Bank Sampah Ceruta Pondok Manggala Surabaya.

BACA JUGA:Mikroplastik Mengintai Kita (2): Masih Banyak yang Tak Tahu

BACA JUGA:5 Alat Dapur Mengandung Mikroplastik, Bahaya Kesehatan Mengintai

“Daripada dibuang dan tidak laku, lebih baik setor ke bank sampah karena bisa dapat uang. Contohnya bungkus Rapika ini. Bisa kita gunting-gunting. Lalu, dimasukkan ke botol dan dijadikan ecobrick,” ucap Titi Riani, salah satu warga di Pondok Manggala, ketika Harian Disway mengunjungi Bank Sampah Ceruta Pondok Manggala Surabaya, 15 Februari 2026.

Bank Sampah Ceruta di Pondok Manggala mengklasifikasikan sampah non organik menjadi 23 jenis. Beberapa di antaranya adalah kardus, dupleks, tutup galon, botol bekas sampo atau sabun, karung atau glangsing, kaleng, sepatu dan sandal bekas, hingga botol kaca.

Ika Pramuningtyas, pengurus Bank Sampah Pondok Manggala Surabaya, mengatakan bahwa setiap nasabah yang mempunyai buku tabungan yang memuat data hasil setoran sampah. 

Ketika sampah sudah ditimbang dan diserahkan ke pengepul, uang yang diterima akan dicatat oleh bagian bendahara terlebih dahulu. Selanjutnya, nasabah dapat mengambil uangnya di bendahara. 


IKA PRAMUNGTYAS menunjukkan hasil kerajinan yang terpasang di Bank Sampah Ceruta.-Najwa Rana-Harian Disway-

“Pengepul yang datang kebanyakan dari warga umum. Kemudian, kondisi sampah yang diserahkan juga harus bersih dan kering. Sudah dipilah dari rumah,” tutur Ika.

Ketentuan setor sampah berlaku untuk ecobrick. Yakni berat sampah minimal adalah 200 gram per botol. Kemudian, sampah plastik di dalamnya harus bersih, kering, padat. Itu agar botol tidak penyok jika dijadikan produk kursi atau meja.

Meski begitu, saat ini Bank Sampah Pondok Manggala belum bisa menerima sampah kemasan yang bagian dalamnya berlapis alumunium atau baju bekas. Sebab, pengepul tidak berminat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: