Mikroplastik Mengintai Kita (3): Berjibaku Melawan Sampah Plastik
CELIA SIURA (dua dari kanan) berkolaborasi dengan rumah sakit untuk menggalakkan popok reusable.-Instagram @mumbi.id-
Warga juga diedukasi. Sampah botol sudah harus tanpa label. Tutup botol dipisah. Juga harus kering. Kemudian, anak-anak sekolah juga dilibatkan dalam pembuatan kerajinan dari barang bekas saat liburan sekolah.
BACA JUGA:Air Hujan Surabaya Tercemar Mikroplastik, Eri Minta Warga Berhenti Bakar Sampah
BACA JUGA:BRIN Gandeng Kampus Teliti Hujan Mikroplastik di Surabaya
“Proses edukasi warga untuk memilah sampah tidak sebentar. Sudah berjalan sekitar 3 tahun. Edukasi dimulai dengan kerja bakti dan memilah sampah di masing-masing pos warga,” jelas Ika.
Sejumlah contoh produk kerajinan yang saat ini terpajang di Bank Sampah Pondok Manggala. Misalnya, bunga dan anting dari botol plastik, kalung dari ring tutup botol yang dirajut, tas dari kantong kresek atau bibir gelas minuman plastik, celengan dari kaleng bekas keripik, yang dihias kain flanel, serta dompet dari bungkus mi instan.
Selain Kampung Iklim, di Surabaya, sudah ada gerakan menggunakan popok dan pembalut reusable oleh brand Bumbi. Sang founder, Celia Siura, berangkat dari keprihatinan pada melimpahnya sampah popok dan pembalut sekali pakai di Sungai Brantas.
Berdasar riset bertajuk Studi Awal Distribusi Mikroplastik di Anak Sungai Brantas, sampah popok juga merupakan salah satu penyumbang mikroplastik di Sungai Brantas. Mitos suluten, menurut Celia, turut menjadi penyebab dalam meningkatnya sampah popok.
KOTAK SEDEKAH SAMPAH yang tersebar di perkampungan Pondok Manggala Surabaya.-Najwa Rana-Harian Disway-
“Kepercayaan itulah yang membuat orang tua enggan membuang sampah popok ke tempat sampah (TPA). Karena khawatir mitos bayi mereka akan mengalami ruam atau iritasi kulit,” papar Celia dalam kegiatan Peluncuran Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Chapter Surabaya di Graha Sawunggaling, 22 Januari 2026.
Akibatnya, banyak keluarga membuang popok tersebut ke sungai. Akhirnya, pada 2021, Celia mulai menggalakkan produk popok dan pembalut. Dia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya. Produk tersebut masih dijual sampai saat ini melalui toko online. Ada juga yang dibagikan lewat Posyandu dan rumah sakit.
“Produk ini sangat awet. Bisa bertahan hingga 5 tahun. Bahkan bisa digunakan turun-temurun sampai ke adik-adiknya. Kami membuatnya dengan bahan katun berkualitas,” ungkapnya kepada Harian Disway.
Upaya mengurangi mikroplastik tak sampai di situ. Sebab, mikroplastik juga bisa disebabkan oleh pakaian berbahan poliester yang dipakai dalam kegiatan sehari-hari atau limbah pakaian dari kain berbahan sintetis.
BACA JUGA:Air Hujan di Surabaya Tercemar Mikroplastik
BACA JUGA:Waspada! 7 Bahaya Tersembunyi Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia yang Perlu Diketahui
Maka, muncul program Kainku yang diinisiasi oleh Bank Sampah Induk Surabaya di Jalan Raya Menur No.31-A, pada September 2025. Mereka menampung limbah kain. Masyarakat bisa menyetorkan limbah kain melalui penjemputan, setor mandiri, atau layanan pengiriman barang seperti Go-Send.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: