Saatnya Perbankan Kita Paham ’’Sindiran’’: NIM Tertinggi di Dunia dan Akhirat
MENTERI KEUANGAN Purbaya Yudhi Sadewa saat berbicara dalam ajang Bloomberg Technoz Economic Outlook di Jakarta, 12 Februari 2026.-dok. Bloomberg Technoz Economic Outlook -
Net Interest Margin (NIM) perbankan di Indonesia masih menjadi yang tertinggi. Meski terus mengalami koreksi dan menurun beberapa tahun belakangan.
BANK di Indonesia adalah yang paling "manja" di dunia. Begitu, kalimat pembuka hiperbola mesin AI Gemini menjawab pertanyaan Harian Disway. Konteksnya adalah tingginya Net Interest Margin (NIM) di perbankan kita, Indonesia.
Mungkin, mesin Gemini, itu menganalisis apa yang ramai diributkan pekan lalu. Saat Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyentil tingginya NIM perbankan di Indonesia. Yang sudah menjadi fenomena sejak 30-40 tahun ini. ”Net interest margin kita besar. Tertinggi di dunia dan akhirat,” ucap Purbaya di acara Bloomberg Economic Outlook 2026, Kamis, 12 Februari 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, NIM rata-rata perbankan di Indonesia mencapai 4,56 persen di Desember 2025. Persentase itu memang turun dibandingkan Desember 2024 yang duduk di angka 4,62 persen.
BACA JUGA:SRO, OJK dan Danantara Bertemu dengan MSCI, Ini Hasil Kesepakatannya!
BACA JUGA:Airlangga Buka Suara Usai Mundurnya Pimpinan OJK–BEI, Prabowo Ingin Percepat Reformasi Pasar Modal
Di kawasan ASEAN, NIM yang mendekati Indonesia ada pada Filipina dengan 3,5-4 persen. Sementara Malaysia hanya tercatat 2,8-3,2 persen. Singapura sebagai negara maju lebih kecil lagi perolehan NIM-nya. Yakni 1,8-2,1 persen.
Lalu apa sebenarnya NIM di dunia perbankan itu? Sampai-sampai Menteri Purbaya menyentilnya?
NIM adalah margin keuntungan bersih yang didapat perbankan dari aktivitas utamanya: meminjam uang. Nilai NIM diukur dari pendapatan bunga yang dihasilkan perbankan dari pinjaman dengan jumlah bunga yang dibayarkan kepada pemberi dana. Atau bunga yang didapat nasabah yang menaruh uang di bank dalam bentuk tabungan, deposito, maupun giro.
Pakar Perbankan Universitas Airlangga Andi Estetiono membenarkan realitas itu. Ia menilai saat ini, bunga kredit bank di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan bunga yang didapat ketika orang menyimpan dana ke perbankan.

ANTUSIASME PESERTA Bloomberg Technoz Economic Outlook di Jakarta, 12 Februari 2026, saat mendengarkan paparan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.-dok. Bloomberg Technoz Economic Outlook -
Bunga kredit di Indonesia saat ini bisa mencapai 9-10 persen. Sementara bunga simpanan hanya 2 persen. ”Jurang yang lebar itu menghasilkan NIM besar. Keuntungan bank di Indonesia menjadi tinggi,” paparnya kepada Harian Disway.
Kondisi itu bukan terjadi secara kebetulan. Banyak orang di Indonesia saat ini telah memanfaatkan perbankan untuk transaksi keuangan. Bukan pada menyimpan uang di bank untuk mendapatkan bunga tinggi.
Orang, kata Andi, saat ini, memilih memasukkan ke uang ke perbankan untuk mengejar kemudahan transaksi. Semakin banyak perbankan menyediakan layanan kemudahan transaksi, termasuk transaksi digital, maka akan dipilih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: