Uzbekistan dan Pelajaran Strategis bagi Industri Pariwisata Indonesia

Uzbekistan dan Pelajaran Strategis bagi Industri Pariwisata Indonesia

ILUSTRASI Uzbekistan dan Pelajaran Strategis bagi Industri Pariwisata Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DI tengah perubahan geopolitik dunia Islam, muncul satu fenomena yang menarik untuk dicermati: transformasi Uzbekistan sebagai pusat baru diplomasi pariwisata ziarah. Negara yang dahulu dikenal sebagai simpul Jalur Sutra itu kini tampil dengan wajah modern, menggabungkan warisan spiritual Islam klasik dengan strategi pembangunan pariwisata yang visioner. 

Fenomena itu tidak hanya relevan dengan promosi destinasi wisata, tapi juga menjadi sebuah narasi besar tentang bagaimana identitas sejarah dapat diolah menjadi instrumen diplomasi global.

Uzbekistan menempatkan dirinya sebagai ”persimpangan peradaban”. Secara historis, wilayah itu memang menjadi titik temu Timur dan Barat, melahirkan tradisi keilmuan Islam yang melampaui batas geografis. 

Kota-kota seperti Samarkand dan Bukhara bukan hanya pusat perdagangan masa lalu, melainkan juga pusat produksi intelektual yang melahirkan ulama besar, termasuk Imam Al-Bukhari. 

BACA JUGA:Bung Karno, Imam Bukhari, dan Uzbekistan

BACA JUGA:Kisah Bung Karno ke Uzbekistan dalam Pentas Seni Bertajuk Imam Al-Bukhari dan Soekarno

Dalam konteks kontemporer, revitalisasi situs-situs ziarah tersebut menunjukkan upaya sadar negara untuk menghidupkan kembali memori kolektif dunia Islam sebagai bagian dari strategi pariwisata.

Pendekatan itu menarik karena memadukan spiritualitas dengan ekonomi. Pariwisata ziarah tidak lagi dipahami sekadar perjalanan religius, tetapi juga sebagai medium soft power

Uzbekistan membangun narasi bahwa ziarah dapat menjadi jembatan dialog peradaban, sekaligus membuka peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi domestik. 

Data pertumbuhan jumlah wisatawan yang meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa strategi tersebut tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam menggerakkan sektor pariwisata nasional.

Namun, yang lebih penting adalah cara Uzbekistan membingkai dirinya dalam arsitektur dunia Islam kontemporer. Selama ini peta wisata ziarah global cenderung berpusat pada Timur Tengah. 

Dengan mempromosikan kompleks Hast-Imam di Tashkent, makam Imam Al-Bukhari di Samarkand, serta situs-situs ulama di Bukhara dan Termez, Uzbekistan menawarkan alternatif geografis sekaligus memperluas imajinasi umat tentang ruang spiritual di luar wilayah Arab. 

Strategi itu secara halus membangun legitimasi budaya sekaligus memperkuat identitas nasional sebagai penjaga warisan Islam klasik.

Transformasi tersebut tidak berdiri sendiri. Negara itu juga berinvestasi besar pada infrastruktur modern: pusat wisata terpadu, jaringan hotel internasional, dan fasilitas olahraga musim dingin yang menyasar wisatawan global lintas segmen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: