Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya

Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya

ILUSTRASI Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Rumah pun bergeser menjadi komoditas spekulatif. Padahal, banyak negara –termasuk negara-negara kapitalis– memiliki perumahan sosial sebagai penyeimbang pasar. Ketika rumah dipahami sebagai hak asasi manusia, menyerahkannya sepenuhnya pada mekanisme pasar berarti mengorbankan keadilan kota.

Sebagai penutup, konsep ab-urbanisasi mengingatkan bahwa menjauhi kota kerap bukan pilihan bebas, melainkan migrasi paksa akibat kebijakan yang keliru. Warga terdorong ke pinggiran karena kota gagal menyediakan hunian yang terjangkau dan layak. 

Surabaya dan kawasan sekitarnya kini berada di persimpangan penting untuk membaca ulang arah urbanisasi. Kota perlu kembali kepada warganya, bukan semata sebagai ruang investasi, tetapi sebagai ruang hidup. 

Membayangkan Greater Surabaya berarti membangun kota yang padat, raya, terhubung, dan berakar pada kampung-kampungnya. Di sanalah Surabaya dapat tumbuh besar tanpa kehilangan jiwanya. (*)

*) Annisa B. Tribhuwaneswari, pengajar Prodi Perencanaan Wilayah Kota, Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, dan co-founder Kindaspace.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: