Ribuan Umat Buddha Ikuti Kirab Waisak 2570 BE dari Mendut ke Borobudur

Ribuan Umat Buddha Ikuti Kirab Waisak 2570 BE dari Mendut ke Borobudur

Kirab hari raya Waisak 2570 BE dari Mendut ke Borobudur ramai diikuti banyak orang. --Istimewa

MAGELANG, HARIAN DISWAY – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia serta mancanegara mengikuti Kirab Waisak Nasional 2570 Buddhist Era (BE) dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Minggu, 31 Mei 2025. 

Prosesi sakral tersebut menjadi salah satu rangkaian utama perayaan Tri Suci Waisak sekaligus membawa pesan cinta kasih, kerukunan, dan perdamaian bagi seluruh dunia.

Sejak pagi hari, kawasan Candi Mendut telah dipadati umat Buddha yang bersiap mengikuti kirab. Berbagai persiapan dilakukan panitia, mulai dari penataan kendaraan hias, gunungan hasil bumi, hingga sarana persembahan yang akan diarak menuju Candi Borobudur.

Kirab dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan menempuh jarak kurang lebih tiga kilometer melalui Jalan Mayor Kusen dan Jalan Balaputradewa.

BACA JUGA:Peringatan Waisak 2026, Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Buddha Teguhkan Dharma untuk Perdamaian Dunia

BACA JUGA:Air Berkah dan Api Dharma Waisak, Simbol Kebijaksanaan serta Cinta Kasih bagi Dunia

Dalam prosesi tersebut, umat Buddha membawa Air Suci Waisak yang diambil dari Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung, serta Api Dharma yang berasal dari Mrapen, Kabupaten Grobogan.

Kedua simbol suci tersebut sebelumnya telah disemayamkan di Candi Mendut setelah melalui serangkaian ritual keagamaan. Bagi umat Buddha, Air Suci dan Api Dharma memiliki makna yang sangat mendalam sebagai lambang kehidupan, kebijaksanaan, serta penerangan batin.

Bhikkhu Dwiwiya Savhira dari Majelis Mahayana Tanah Suci Indonesia menjelaskan bahwa kirab bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan simbol perjalanan hidup manusia menuju kebijaksanaan dan pencerahan.

Menurutnya, setiap manusia akan menghadapi berbagai tantangan dan liku kehidupan. Karena itu, berbagai persembahan yang dibawa dalam kirab melambangkan bekal spiritual yang diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Borobudur Sambut Waisak, Arca Adhi Buddha yang Belum Selesai Kini Ada di Lapangan Kenari

BACA JUGA:Umat Buddha Maitreya Peringati Waisak di Maha Vihara dan Pusdiklat Maitreya, Disertai Prosesi Memandikan Rupang Buddha


Para Bhikku yang ikut dalam kirab Hari Raya Waisak 2570 BE dari Mendut ke Borobudur. --Istimewa

Ia menjelaskan bahwa Api Dharma melambangkan cahaya kebenaran yang membantu manusia membedakan antara hal yang baik dan buruk. Sementara Air Suci melambangkan cinta kasih, kehidupan, serta kerendahan hati.

"Manusia membutuhkan cahaya dalam hidup agar mengetahui jalan yang benar. Air melambangkan cinta kasih karena semua makhluk membutuhkannya untuk hidup. Air juga mengajarkan kerendahan hati dan tidak bersikap sombong," ujarnya.

Bhikkhu Dwiwiya menegaskan bahwa cinta kasih merupakan fondasi utama dalam menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis. Menurutnya, seseorang yang memiliki cinta kasih dan kerendahan hati akan lebih mudah memperoleh ketenangan batin serta menjalin hubungan baik dengan sesama.

Dalam momentum Waisak tahun ini, ia juga mengajak masyarakat untuk memperkuat empati terhadap sesama. Ia mengingatkan bahwa perjalanan Siddhartha Gautama menuju pencerahan berawal dari kepeduliannya terhadap penderitaan manusia yang mengalami sakit, usia tua, dan kematian.

BACA JUGA:Peringati Hari Raya Waisak, BRI Berikan 1.000 Paket Sembako di Tangerang

BACA JUGA: Menag Nasaruddin Umar: Waisak Momentum Menanamkan Kebajikan dan Wujudkan Perdamaian Dunia

Peringatan Waisak sendiri memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan parinibbana atau wafatnya Sang Buddha.

Selain Air Suci dan Api Dharma, perayaan Waisak juga menghadirkan simbol pelita dan pohon bodhi. Pelita melambangkan perjalanan manusia dari kegelapan menuju terang melalui pemahaman Dharma, sedangkan pohon bodhi menjadi simbol pencapaian pencerahan tertinggi.

Setelah tiba di Candi Borobudur, umat Buddha melanjutkan rangkaian ibadah berupa puja bakti, meditasi, serta ritual keagamaan lainnya. Puncak peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE berlangsung pada pukul 15.44.44 WIB dan menjadi momen paling sakral dalam seluruh rangkaian perayaan.

Pada malam hari, perayaan ditutup dengan pelepasan lampion yang menjadi simbol harapan, kebahagiaan, kedamaian, serta doa bagi seluruh makhluk hidup. Tradisi tersebut juga menjadi wujud harapan agar nilai-nilai cinta kasih dan kerukunan terus terjaga demi terciptanya perdamaian dunia.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: