Nasib Pelaksanaan Haji 2026 setelah Serangan ke Iran, Himpuh Beber Risiko Terburuknya
Ketegangan kawasan berpotensi memengaruhi keamanan, penerbangan, dan kepastian Haji 2026 bagi jemaah Indonesia RI.-Media Center Haji 2025-
JAKARTA, HARIAN DISWAY - Ketegangan konflik Iran dan Israel bersama Amerika Serikat tidak bisa dipandang sebagai isu bilateral semata.
Setiap eskalasi yang muncul kerap mengguncang stabilitas Timur Tengah, kawasan strategis yang menjadi pusat jalur energi dan penerbangan global.
Dalam situasi seperti ini, perhatian umat Islam tidak hanya tertuju pada dinamika politik internasional, tetapi juga pada dampaknya terhadap penyelenggaraan Haji 2026 di Arab Saudi.
Bidang Pengkajian Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) membeber risiko terburuk pelaksanaan haji tahun ini imbas konflik yang memanas di Timur Tengah.
Menurut Himpuh, sebagai operasi logistik tahunan terbesar di dunia, haji bergantung pada keamanan kawasan, stabilitas ruang udara, dan kelancaran penerbangan lintas negara.
Jika konflik terbuka benar benar pecah, dampaknya berpotensi terasa lebih awal, bahkan sebelum pertempuran mencapai titik terdepan.
BACA JUGA:IRGC Lancarkan Pembalasan atas Kematian Khamenei, 27 Pangkalan AS dan Israel Digempur Habis-habisan
BACA JUGA:Jamaah Umrah Tertahan Imbas Konflik Timur Tengah, Pemerintah Siapkan Skenario Darurat
"Faktor yang paling krusial terletak pada keamanan dan status ruang udara di kawasan tersebut. Jalur penerbangan di atas Iran, Irak, serta kawasan Teluk Persia menjadi penghubung utama Asia dengan Eropa dan Timur Tengah. Ketika konflik meningkat, otoritas dapat menutup atau membatasi wilayah udara secara ketat," tulis Himpuh dalam keterangan resminya.
Maskapai global biasanya menghindari area berisiko tinggi, terutama saat sistem pertahanan aktif dan patroli militer diperkuat. Perubahan rute membuat durasi penerbangan lebih lama.
Konsumsi bahan bakar ikut naik. Jadwal keberangkatan musim haji menjadi lebih padat dan potensi keterlambatan semakin besar.
Dampak berikutnya langsung mengenai sektor penerbangan sipil. Saat konflik militer meningkat, maskapai menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. Prinsip kehati hatian diterapkan meski ancaman belum sepenuhnya terjadi.
BACA JUGA:Perang Iran vs AS dan Israel Berpotensi Dongkrak Harga BBM di Indonesia
BACA JUGA:Ayatollah Ali Khamenei Gugur, Ini Riwayat Hidup dan Kepemimpinannya di Iran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: himpuh.or.id