Prabowo Disebut Siap Evaluasi Keanggotaan Indonesia di Board of Peace, Opsi Keluar Ikut Dibahas
Presiden Prabowo disebut siap evaluasi keanggotaan Indonesia di BoP.--Instagram
JAKARTA, HARIAN DISWAY - Presiden Prabowo Subianto disebut siap mengevaluasi keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) setelah eskalasi konflik akibat serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran.
Evaluasi tersebut dibahas dalam pertemuan tertutup yang melibatkan para tokoh nasional dan pejabat pemerintahan di Istana Merdeka pada Selasa, 3 Maret 2026.
Kabarnya, langkah itu juga dipertimbangkan setelah meningkatnya ketegangan global akibat serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran sejak akhir pekan lalu.
BACA JUGA:Prabowo Pimpin Upacara Militer Pemakaman Try Sutrisno di TMP Kalibata, Beri Penghormatan Terakhir
BACA JUGA:MUI Minta Indonesia Keluar dari Board of Peace, Menlu Sugiono Beri Respons
Pertemuan dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk mantan presiden dan wakil presiden, mantan menteri luar negeri, ketua umum partai politik, serta jajaran Kabinet Merah Putih.
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menyatakan evaluasi menjadi opsi realistis di tengah perkembangan konflik terbaru.
“Iya (Presiden menyatakan siap mengevaluasi), dengan perkembangan-perkembangan terakhir ini, memang harus dievaluasi,” kata Hassan kepada wartawan usai pertemuan, Selasa malam.
Menurutnya, serangan yang dilakukan dua negara anggota BoP berpotensi melemahkan legitimasi lembaga tersebut.
Padahal, BoP dibentuk untuk mendorong terciptanya perdamaian, memfasilitasi gencatan senjata, membuka akses bantuan kemanusiaan, serta mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah konflik.
BACA JUGA:GREAT Institute Tegaskan Board of Peace Punya Mandat PBB, Palestina Dukung Indonesia
BACA JUGA:Palestina Resmi Buka Kantor Penghubung dengan Board of Peace, Fokus Koordinasi Gaza
“Kita bahas (BoP), tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan, kemungkinan melemahkan posisi dan mandat BoP? Kita akan berhitung lagi dari sisi itu,” ucapnya.
Pengiriman Pasukan Indonesia Ikut Dikaji
Evaluasi tersebut juga berkaitan dengan rencana kontribusi Indonesia dalam misi stabilisasi internasional, termasuk pengiriman 8.000 personel yang tergabung dalam International Stabilization Force (ISF) ke Palestina.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: