Dauroh Ramadhan Parenting Hood Academy, Ajak Orang Tua Mendidik Anak dengan Hati

Dauroh Ramadhan Parenting Hood Academy, Ajak Orang Tua Mendidik Anak dengan Hati

PULUHAN ORANG TUA mengikuti seminar edukasi parenting di Masjid Nuruzzaman, Kampus B, Universitas Airlangga pada 8 Maret 2026. - Ilmi Bening - Harian Disway

Anak kecil yang cenderung boros, ceroboh, dan kurang bisa mengendalikan emosi dipengaruhi oleh nafsul ammarah. Namun, jika berhasil mengendalikan fitrah, sifat itu kan berubah menjadi dermawan .

Dalam pendidikan anak, ada bakat dan akhlak yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Bakat menentukan kebermanfaatan bagi anak dalam hidup bermasyarakat. Sementara, akhlak mempengaruhi cara berperilaku.

Karena itulah, orang tua memerlukan metode yang tepat untuk memahami adaptasi anak anak zaman sekarang dengan teknologi AI.

BACA JUGA:Kajian Kampoeng Ramadan Hari Kedua di Unair, Beri Materi Edukasi tentang Pernikahan

BACA JUGA:Kajian Mutiara Muslimah Unair, Sajikan Wawasan tentang Kebebasan dan Ketundukan Perempuan

Pendidikan dan keterampilan fisik yang meliputi kemampuan hafalan (memori), gerakan reflek, dan sensorik rawan tergantikan oleh AI.

Jika tidak dikendalikan dengan benar, teknologi itu pun mampu menggantikan kemampuan logika manusia dalam menghitung, membaca, menganalisa dan menerjemahkan. 

Sebaliknya, pendidikan cinta yang mendukung terbentuknya empati, kesabaran, keimanan, memahami orang lain tidak bisa tergantikan oleh AI. Maka, manfaatkan teknologi untuk fokus pada pendidikan cinta. 

“Mendidik anak harus dengan cinta, dari hati ke hati. Anak terlahir cenderung baik, tidak ada yang lahir dengan sifat jahat. Lingkunganlah yang mempengaruhi perilaku anak,” tutur Abdul.

BACA JUGA:Ketika Anak-Anak Usia Dini Kian Lekat pada Gawai, Kendali Ada pada Orang Tua

BACA JUGA:Membaca Sejak Dini Dimulai dari Keluarga, Orang Tua Harus Jadi Teladan

Apabila fitrah anak dan hatinya dijaga, timbul rasa senang dan cinta. Dampaknya, anak akan melakukan sesuatu karena cinta dan kemauannya sendiri sehingga orang tua tidak perlu memaksa.

Di dunia digital yang semua jawaban bisa ditemukan lewat AI, orang tua tidak lagi mengasuh dengan prinsip pemikiran "siapa yang paling tahu". Namun, harus dilandaskan pada ikatan cinta.

Cinta, menurut Abdul, tidak bisa ditanamkan bersamaan dengan logika. Pendidikan logika akan sulit menyentuh hati. Akibatnya, anak merasa kurang disayangi.

“Contohnya begini, kalau kamu nanti mau salat, bunda sayang sama kamu. Itu logika. Padahal, bundanya ingin tumbuh cinta dan kesadaran pada anak tentang salat. Tidak nyambung,” ucapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: