Deep Learning untuk Ramadan Berdampak

Deep Learning untuk Ramadan Berdampak

ILUSTRASI Deep Learning untuk Ramadan Berdampak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Sebagai bagian dari pembacaan yang mendalam (deep reading), kita penting memahami Ramadan sebagai bulan pendidikan. Dalam perspektif ini, tentu banyak pelajaran berharga yang dapat diperoleh selama menjalankan ibadah puasa Ramadan. 

Di antaranya, pelajaran mengenai nilai-nilai kejujuran, kesabaran, kesahajaan, solidaritas sosial, serta pengharapan pada pahala dan kenikmatan yang dijanjikan Allah SWT. 

Sayang sekali, tidak semua orang mampu menuai hasil dari training Ramadan. Bahkan, ada sebagian umat yang perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai Ramadan. Perilaku mereka dapat dikategorikan sebagai paradoks Ramadan. Paling tidak, ada tiga jenis perilaku yang disadari atau tidak dapat merusak nilai-nilai puasa Ramadan. 

Pertama, perilaku boros atau konsumtif. Perilaku boros dapat diamati melalui kebiasaan umat yang suka berbelanja secara berlebihan saat Ramadan. Pola hidup konsumtif makin meningkat saat jelang Lebaran. Budaya konsumtif jelas menjadi paradoks Ramadan yang mengajarkan nilai-nilai kesahajaan.

Karena berperilaku konsumtif, sebagian umat menyambut Ramadan dengan ungkapan: marhaban ya bulan belanja. Anekdot itu menunjukkan betapa budaya konsumtif telah menjadi gaya hidup sebagian umat selama Ramadan. 

Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa selalu ada persaingan yang cukup sengit antara masjid dan pusat perbelanjaan. Hal itu terjadi terutama saat pertengahan Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

Kedua, berperilaku pemarah. Hal itu dapat diamati dari kegiatan sebagian organisasi kemasyarakatan (ormas) yang menempuh jalan kekerasan dengan alasan ingin menjaga suasana Ramadan. 

Dengan mengatasnamakan dakwah untuk memerintah kepada kebaikan dan melarang kemungkaran (al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ’an al-munkar), mereka melakukan razia terhadap restoran, warung tegal (warteg), dan tempat hiburan yang buka pada siang hari bulan Ramadan. 

Padahal, Ramadan mengajarkan kesabaran seperti tampak dalam ajaran untuk menjaga diri dari tindakan yang membatalkan dan merusak ibadah puasa. Hal itu berarti bahwa setiap orang yang berpuasa tidak boleh melakukan kekerasan kepada siapa pun dan atas nama apa pun. 

Justru sikap berempati kepada orang lain yang harus dikedepankan. Pihak-pihak yang berpotensi merusak suasana Ramadan juga harus menunjukkan sikap berempati kepada orang yang berpuasa.

Ketiga, perilaku bermalas-malasan. Jika sifat bermalas-malasan menjadi budaya selama Ramadan, produktivitas kerja umat akan menurun drastis. Tidak bisa dimungkiri bahwa kondisi berpuasa dapat menimbulkan daya tahan tubuh menurun. 

Tetapi, hal itu bukan alasan untuk mengurangi produktivitas. Harus diingat bahwa sifat malas merupakan paradoks Ramadan sehingga harus dijauhi. 

Spirit bekerja keras terasa sejalan dengan kalam Ilahi bahwa Allah terus berada dalam kesibukan (Q.S. Al-Rahman: 29). Melalui kerja keras itulah, kita menyaksikan banyak karya besar umat Islam justru lahir pada bulan Ramadan. 

Sebagai contoh, kemenangan pasukan muslim dalam perang Badar dan penaklukan Kota Makkah. Sejarah keemasan Islam juga diwarnai prestasi hebat yang diukir pada bulan Ramadan. Misalnya, keberhasilan menaklukkan Andalusia dan kemenangan dalam Perang Salib. 

Bahkan, pernyataan kemerdekaan negeri tercinta yang diproklamasikan oleh dwitunggal Sukarno-Hatta juga terjadi pada bulan Ramadan. Berbagai peristiwa itu menunjukkan bahwa Ramadan tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: