Deep Learning untuk Ramadan Berdampak
ILUSTRASI Deep Learning untuk Ramadan Berdampak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
TERMA pembelajaran mendalam (deep learning) sejatinya populer di dunia pendidikan. Kebijakan implementasi pembelajaran mendalam menjadi bagian dari terobosan inovatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan bahwa pembelajaran mendalam merupakan pendekatan dalam proses belajar mengajar dan bukan kurikulum baru.
Sebagai sebuah pendekatan, pembelajaran mendalam bertujuan membangun kesadaran mengenai pentingnya belajar (mindful learning), mempelajari materi yang kontekstual dan bermakna dalam kehidupan (meaningful learning), serta belajar dengan penuh kegembiraan (joyful learning).
Dengan menggunakan tiga pilar penting itu, diharapkan terjadi peningkatan kompetensi literasi numerasi di kalangan guru dan murid.
BACA JUGA:Program Deep Learning Kemendikdasmen Dinilai Baik, Surveinya 75,1 Persen
BACA JUGA:Deep Learning Jadi Kunci Inovasi Pembelajaran Abad Ke-21
Pertanyaannya, apa keterkaitan pendekatan pembelajaran mendalam dengan Ramadan? Jawabnya, pembelajaran mendalam penting menjadi pendekatan dalam memahami seluruh rangkaian ibadah pada bulan Ramadan.
Apalagi, sering dikatakan bahwa Ramadan sejatinya merupakan bulan pendidikan (syahrut tarbiyah). Karena itulah, setiap pribadi penting memahami secara mendalam seluruh ibadah yang diamalkan selama Ramadan.
Bahkan, bukan hanya kegiatan yang berdimensi amal ibadah. Fenomena budaya yang bercorak selebrasi atau perayaan dalam rangka menyambut Ramadan juga penting ditelaah secara mendalam.
Untuk membahas keterkaitan pembelajaran mendalam dengan Ramadan, kita dapat meminjam kerangka pikir Andre Moller dalam Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting (2005).
Buku tersebut berasal dari disertasi Andre Moller di Lund University, Swedia. Tepatnya di program studi sejarah dan antropologi. Buku Ramadan in Java merupakan hasil studi lapangan Andre Moller di Yogyakarta dan Blora, Jawa Tengah.
Sebagai antropolog, Andre Moller ingin menelaah praktik, tradisi, dan cara orang Jawa dalam merayakan Ramadan. Andre Moller menemukan banyak tradisi khas Nusantara yang tidak ditemukan di negara lain, termasuk negeri berpenduduk mayoritas muslim.
PERAYAAN DAN JIHAD
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: