Menyoal Nalar Kekerasan
IUSTRASI Menyoal Nalar Kekerasan.-Arya/AI-Harian Disway-
Setiap kepemimpinan mensyaratkan kepandaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Pasalnya, tanpa hal itu, akan terjadi pertikaian, permusuhan, dan bahkan pembunuhan atas nama kekuasaan kepemimpinan.
Mengasah pikiran dan batin dengan ilmu menjadi sebuah keniscayaan di tengah makin masifnya laku ketidakadilan. Ilmulah yang akan menuntun seseorang pada pilihan bijak, menjauhi kekerasan, dan memilih jalan kebajikan untuk semesta. Ilmu menjadi sinar terang bagi semua. Ilmu menjadi jalan penunjuk kebenaran yang hakiki.
Proses pencarian ilmu pun menjadi laku kehidupan sepanjang hayat (long time, long life). Sumber ilmu pun dapat didapat dari siapa saja dan mana saja. Sebagaimana petuah bijak Ki Hadjar Dewantara, ”jadikan semua orang guru dan setiap tempat sekolah”.
Peristiwa kekerasan yang hari-hari ini kita saksikan menjadi bukti nyata bahwa pengendalian diri dan ilmu masih minim dalam jiwa Korps Bhayangkara. Pengarusutamaan pengendalian diri dan ilmu tampaknya menjadi agenda jangka pendek dan jangka panjang bagi kepolisian yang memiliki ”falsafah” melayani, melindungi, dan mengayomi.
Tiga mantra itu perlu mewujud dalam jiwa kesatria Kepolisian Republik Indonesia sebagai upaya mengimplementasikan sila kedua Pancasila, ”kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Semoga kematian AT menjadi yang terakhir dari tindak kekerasan yang dipertontonkan polisi. Kematian AT perlu menjadi pelajaran bagi semua, bahwa hak hidup itu menjadi kemuliaan manusia. AT adalah anak dan potensi bangsa yang berhak hidup di bumi Indonesia. (*)
*) Benni Setiawan, dosen Fakultas Hukum, Universitas Negeri Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: