Pencarian Rumah Semu: 70 Remaja Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem

Pencarian Rumah Semu: 70 Remaja Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem

ILUSTRASI Pencarian Rumah Semu: 70 Remaja Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Terpaparnya 70-an remaja dengan ideologi kekerasan ekstrem memiliki dampak yang sangat besar dan masif bagi perkembangan psikologis anak atau remaja, bagi lingkungan sekitarnya, maupun bagi bangsa dan negara. 

Ideologi, nilai atau keyakinan keliru (ideologi kekerasan ekstrem) yang diterima remaja akan menjadi salah satu fondasi dalam pembentukan karakter, jati diri, maupun kepribadiannya. 

Kondisi itu akan di bawah oleh remaja di masa dewasa dan berpotensi besar memengaruhi cara mereka berpikir, merasakan bahkan berperilaku. 

Pencegahan fenomena itu kembali terulang bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, bukan juga tanggung jawab aparat penegak hukum atau guru, melainkan tanggung jawab kita bersama. Terutama orang tua yang menjadi pionir awal dalam mendampingi anak atau remaja. 

Maka dari itu, alih-alih berdiam diri menjadi penonton saja, kita semua dapat ikut berperan menjalankan langkah pencegahan supaya kejadian serupa tidak terulang kembali dengan cara memaksimalkan kembali fungsi keluarga dan peran orang tua dalam mendukung perkembangan anak maupun remaja, memberikan ruang bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan dan aspirasi secara positif. 

Juga, menanamkan ideologi positif (seperti Pancasila, norma agama, maupun normal-norma yang bersifat universal) bagi anak maupun remaja di sekitar kita. Pepatah mengatakan bahwa mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Maka dari itu, langkah pencegahan perlu diutamakan dan dilakukan secara masif oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Di sisi lain, diperlukan langkah penanganan bagi mereka yang telah terpapar dengan memberikan layanan rehabilitasi atau terapi, proses monitoring, dan evaluasi secara ketat dan terukur untuk memastikan ideologi kekerasan ekstrem sudah tidak memapari mereka lagi. 

Upaya penanganan dan monitoring tidak boleh hanya bersifat formalitas, tetapi harus dilakukan secara ketat dan terukur dalam pengawasan professional yang sesuai bidangnya. 

Mengingat, penanganan tanpa proses evaluasi yang ketat dan terukur akan menurunkan efektivitas dari proses penanganan itu sendiri dan tidak dapat mengukur seberapa efektif proses penanganan yang diberikan kepada remaja yang terpapar. 

Hal itu perlu menjadi perhatian khusus untuk meminimalkan dan sebagai langkah pencegahan keberulangan mereka mencari komunitas serupa di kemudian hari. 

Selain itu, upaya penanganan bagi remaja yang terpapar ideologi kekerasan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan sebagai manifestasi dari keyakinan, nilai, maupun ideologi berbau kekerasan yang mereka aminkan. 

Terwujudnya generasi emas merupakan tanggung jawab kita bersama. Mari, berikan langkah kecil kita sekarang untuk memulai perubahan besar mendatang! (*) 

 

*) Ricky Alejandro Martin, kepala Lab. Psikodiagnostik, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: