Lebaran, Perang, dan Nihilisme Religius
ILUSTRASI Lebaran, Perang, dan Nihilisme Religius.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Suasana halalbihalal yang seharusnya menjadi ”ruang ketiga” untuk rekonsiliasi justru dikoyak menjadi hiruk-pikuk nir-empati yang penuh darah.
Hasrat universal untuk merayakan identitas budaya dan agama adalah hak asasi yang paling mendasar. Perang yang menghancurkan momen Lebaran adalah serangan terhadap martabat manusia.
Peradaban damai tidak dibangun di atas kertas perjanjian diplomatik semata, tetapi di atas rasa aman ketika seorang ibu memasak hidangan hari raya untuk anak-anaknya.
Setiap ledakan di wilayah konflik tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga menghancurkan struktur psikologis masyarakat. Bagaimana sebuah generasi bisa percaya kepada konsep ”maaf” jika realitas yang mereka lihat justru adalah ”balas dendam” yang tak berkesudahan?
Itu adalah penghancuran peradaban secara sistematis, yakni nilai-nilai luhur seperti kasih sayang dan toleransi dianggap sebagai kelemahan, sementara agresi dipuja sebagai kekuatan.
Kita berada di persimpangan jalan sejarah yang kelam. Di satu sisi, ada kerinduan manusiawi untuk duduk melingkar, berbagi tawa, dan saling melepaskan beban masa lalu melalui halalbihalal. Di sisi lain, ada mekanika perang yang impersonal dan brutal.
Jika dunia membiarkan momen-momen sakral seperti Lebaran dilumuri darah tanpa kecaman yang berarti, kita sebenarnya sedang meresmikan kembalinya zaman kegelapan. Kemanusiaan tidak akan pernah menang selama ”logika peluru” lebih dominan daripada ”logika pelukan”.
Tragedi perang adalah alarm bagi nurani global. Kita tidak bisa lagi melihat perang sebagai sekadar statistik di berita utama. Ia adalah pembunuh budaya, penghancur spiritualitas, dan pengkhianatan terhadap janji damai yang kita ucapkan setiap hari raya.
Halalbihalal seharusnya menjadi benteng terakhir kemanusiaan kita. Tempat di mana perbedaan dilarutkan dalam air mata permohonan maaf bukan dalam genangan darah.
Ketika serangan militer menghunjam di tengah suasana fitri, yang hancur bukan sekadar infrastruktur beton, melainkan juga robohya struktur kepercayaan universal.
Dalam tinjauan kemanusiaan kritis, kita harus berani bertanya: mengapa dunia seolah memiliki standar ganda dalam mendefinisikan penderitaan?
Pada perspektif humanisme kritis, perang selalu dimulai dengan bahasa. Sebelum peluru dilesatkan, musuh harus dihilangkan kemanusiaannya.
Para aktor perang menggunakan eufemisme teknis seperti ”target strategis” atau ”kerusakan kolateral” untuk menutupi fakta bahwa yang mereka hancurkan adalah meja-meja makan keluarga yang sedang merayakan kemenangan batin atau meja-meja siswa sekolah yang sedang merayakan pendidikan.
Yang jelas, tragedi itu sungguh merobek esensi halalbihalal. Jika ia adalah pengakuan akan kesetaraan martabat (bahwa kita semua berdosa dan berhak diampuni), serangan militer adalah klaim superioritas absolut.
Di sini, satu pihak memosisikan diri sebagai ”Tuhan” yang berhak mencabut nyawa, sedangkan pihak lain dianggap sebagai ”angka” dalam statistik konflik. Itu adalah pengkhianatan terhadap kontrak sosial global yang menyatakan bahwa setiap nyawa memiliki nilai intrinsik yang tak terhingga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: