Idulfitri dan Krisis Kehadiran

Idulfitri dan Krisis Kehadiran

ILUSTRASI Idulfitri dan Krisis Kehadiran.-Arya/AI-Harian Disway-

Lebaran, dengan demikian, adalah puncak dari komunikasi yang utuh. Ia menggabungkan pesan verbal dan nonverbal, emosi dan simbol, individu dan komunitas. Namun, komunikasi yang utuh itu kini mulai tergerus.

DIGITALISASI DAN EROSI KEHADIRAN

Perkembangan teknologi komunikasi membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi. Media sosial dan aplikasi pesan instan telah menciptakan apa yang disebut sebagai komunikasi yang dimediasi.

Sherry Turkle dalam tulisannya banyak mengingatkan bahwa manusia kini ”alone together” –bersama secara fisik, tetapi sendiri secara psikologis karena tenggelam dalam perangkat digital. Fenomena itu sangat terasa dalam momen Lebaran.

Reuni keluarga, reuni tetangga, dan reuni sahabat yang seharusnya menjadi ruang komunikasi interpersonal justru sering berubah menjadi ruang komunikasi yang terfragmentasi. Orang-orang hadir secara fisik, tetapi terpecah secara perhatian. Mereka berada dalam satu ruang, tetapi terlibat dalam banyak percakapan digital sekaligus.

Kita acap kali menyaksikan saat Lebaran, banyak orang berkumpul. Namun, kepala saling menunduk. Mata terpaku pada layar. Jemari tangan juga abergerak tanpa henti. Kondisi itu disebut sebagai ”absent presence”; hadir secara fisik, tetapi tidak secara psikologis. Itu adalah bentuk krisis kehadiran yang nyata.

Dampaknya tidak sederhana. Ketika perhatian terbagi, kualitas komunikasi menurun. Pesan tidak diterima secara utuh. Respons menjadi dangkal. Empati melemah.

Saat ini, ketika teknologi maju terjadi kelimpahan informasi. Tetapi, seketika itu pula justru menciptakan kelangkaan perhatian. Dalam konteks Lebaran, kelangkaan perhatian itu berdampak langsung pada relasi: kita tidak lagi memberikan ruang penuh bagi orang di hadapan kita.

Lebih jauh lagi, kita mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar secara aktif. Padahal, mendengar merupakan inti dari komunikasi interpersonal yang efektif. Mendengar tidak lagi menjadi proses memahami, tetapi sekadar aktivitas sambil lalu, bahkan tergantikan oleh distraksi digital.

Fenomena semacam itu telah menggerus penghormatan sosial. Dalam budaya kita, memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara adalah bentuk penghormatan. Ketika seseorang lebih fokus pada gawainya daripada pada orang di depannya, yang terjadi bukan sekadar gangguan komunikasi, melainkan juga penurunan kualitas relasi.

Lebaran kemudian bergeser dari komunikasi yang partisipatif menjadi komunikasi yang performatif. Kebersamaan lebih banyak ditampilkan daripada dialami. Foto keluarga diunggah, berbagai adegan video dipamerkan, tetapi percakapan di dalamnya minim. Ritualnya masih berlangsung, tetapi maknanya menipis dan menghilang.

KOMUNIKASI HUMANISTIS

Dalam situasi itu, sesungguhnyalah silaturahmi tatap muka menjadi makin penting. Ia bukan hanya tradisi, melainkan juga bentuk pemulihan komunikasi yang utuh. 

Hubungan antarmanusia yang otentik, di mana seseorang benar-benar hadir dan mengakui keberadaan yang lain secara penuh sangat diperlukan. Maka, relasi semacam itu hanya mungkin terjadi dalam kehadiran yang tidak tereduksi.

Tatap muka memungkinkan terjadinya komunikasi yang autentik. Dalam interaksi langsung, manusia tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga membangun pemahaman bersama. Ada ruang untuk klarifikasi, untuk empati, untuk koneksi emosional yang lebih dalam. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: