Idulfitri dan Krisis Kehadiran

Idulfitri dan Krisis Kehadiran

ILUSTRASI Idulfitri dan Krisis Kehadiran.-Arya/AI-Harian Disway-

Dalam perspektif komunikasi, itu adalah bentuk komunikasi yang paling efektif dan paling manusiawi. Tidak ada algoritma. Tidak ada filter. Tidak ada distraksi berlebihan.

Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali praktik itu. Mudik membuka ruang perjumpaan. Anjangsana memperluas jaringan relasi. Tetirah memberikan kedalaman refleksi.

Namun, semua itu membutuhkan kesadaran untuk benar-benar hadir. Hadir secara fisik, hadir secara mental, dan hadir secara emosional.

Mengurangi penggunaan gawai dalam momen silaturahmi tidak berarti menolak teknologi, tetapi mengembalikan prioritas komunikasi pada bentuk yang paling esensial. Sebab, pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal tersambung, melainkan juga soal terhubung.

Idulfitri mengajari kita untuk kembali. Tetapi, kembali ke mana? Jika kita kembali pada fitrah, kita kembali pada kemanusiaan. Dan, kemanusiaan itu hanya bisa hidup dalam relasi yang nyata –dalam perjumpaan, dalam percakapan, dalam kehadiran yang utuh.

Krisis kehadiran yang kita alami hari ini adalah tantangan serius. Ia tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga cara kita menjadi manusia. 

Maka, mungkin, di tengah riuhnya teknologi, pesan Idulfitri yang paling mendasar justru sederhana. Kita hadir sepenuhnya. Dengarkan dengan sungguh. Hormati dengan perhatian.

Sebab, tanpa kehadiran, komunikasi kehilangan makna. Dan, tanpa penghormatan pada sesama, humanisme kehilangan pijakannya. Pada akhirnya, tanpa keduanya, Lebaran tinggal sebuah peristiwa seremoni belaka. Selamat berlebaran! Selamat berkomunikasi yang otentik!!! (*)

*) Suko Widodo, dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga dan koordinator Komunikolog Indonesia.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: