Dugaan Penyebab Pembunuhan Cucu Tokoh Betawi Mpok Nori, Pelaku Menganggur
ilustrasi Gusti--
Aliya Hamid Rao adalah guru besar di Departemen Metodologi di London School of Economics, Inggris. Risetnya berfokus pada pekerjaan tidak tetap dan pengangguran. Bukunya, Crunch Time: How Married Couples Confront Unemployment, terbitan University of California Press.\
Dibuka dengan kalimat begini: Perusahaan sering menganggap PHK sebagai salah satu dari beberapa alat yang dapat mereka gunakan untuk efisiensi dan meningkatkan profitabilitas. Namun, dampak PHK sangat besar bagi orang-orang yang kehilangan pekerjaan.
Rao menggambarkan ilustrasi tentang risetnya di AS, demikian, di usia akhir 40-an, warga AS bernama Robert memperoleh penghasilan enam digit yang nyaman sebelum ia diberhentikan. “Ketika saya berbicara dengannya, ia telah menganggur selama hampir setahun,” kata Rao.
Robert kepada Rao: “Salah satu hal yang Anda rasakan ketika menganggur adalah Anda menjadi sangat sensitif terhadap rasa tidak hormat dari orang-orang di sekitar Anda.”
Dilanjut: “Anda akan merasa tidak dihargai, tidak dihormati, karena jelas tidak ada yang menginginkan Anda, bukan?”
Sambil berhenti sejenak, ia menyatakan untuk menggarisbawahi maksudnya: “Anda terus-menerus bergumul dengan… masalah identitas setiap hari.”
Rao: “Contoh kasus Robert adalah salah satu dari puluhan pria dan wanita pengangguran jangka panjang yang saya ajak bicara, yang memiliki beberapa pekerjaan baik. Pekerjaan yang aman, dimaksudkan untuk jangka waktu yang cukup lama. Juga memiliki jam kerja tetap, dan dilengkapi dengan tunjangan, seperti program pensiun dan sebagainya.”
Dilanjut: “Dalam penelitian saya, pekerjaan-pekerjaan ini termasuk pemasaran, manajemen proyek, keuangan, dan banyak lagi.”
Responden dalam riset Rao yang dilakukan di AS antara tahun 2013 sampai 2016 itu laki-laki dewasa dari berbagai etnis. Dari kulit putih sampai hitam. Dari pekerja kasar sampai bankir. Sebagian besar mereka punya gelar sarjana.
Rao juga menghabiskan beberapa minggu tinggal di rumah para responden untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan mereka.
Hasilnya, Rao: “Yang saya temukan adalah perjuangan untuk mempertahankan harga diri di tengah kehilangan pekerjaan sangat terasa, terutama bagi laki-laki.”
Di saat harga diri laki-laki terganggu, maka keluarga bakal terdampak. Peristiwa sepele dalam kehidupan sehari-hari, bisa direaksi berlebihan oleh suami yang kehilangan pekerjaan. Suami bisa agresif. Bisa terjadi pembunuhan.
Di Indonesia, banyak pegawai yang selalu merindukan libur panjang saat mereka aktif bekerja. Mereka selalu memantau kalender sekadar mencari tahu, kapan ada libur panjang. Liburan adalah kegembiraan.
Ketika seorang pegawai atau pedagang libur seterusnya (di-PHK atau bangkrut), barulah ia sadar, betapa pentingnya bekerja. Bukan cuma soal uang hasil kerja, tapi juga harga diri. Itulah yang dirasakan Fuad. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: