Produsen Mobil Listrik Adu Cepat Isi Daya Baterai untuk Tarik Konsumen
Produsen Listrik Berlomba Bikin Nyaman Konsumen-Bangkok Internasional Motor Show -
Produsen mobil listrik seperti ingin memantau dengan lebih dalam perilaku pengguna mobil konvensional. Salah satunya waktu tunggu mereka mengisi bahan bakar.
Misalnya ketika seseorang mengantre BBM di SPBU. Membutuhkan waktu berapa lama sekitar 10-15 menit jika dihitung dari seseorang masuk stasiun pengisian hingga keluar. ”Nah, itu yang coba dikejar oleh produsen mobil listrik,” katanya.
Kondisi tersebut, kata Alief berbeda saat pengenalan mobil listrik di tahap awal dulu. Selain karena teknologi belum secanggih sekarang, produsen belum fokus memikirkan itu. Sebab, pangsa pasarnya adalah early adopters. Mereka yang tertarik pada mobil listrik bukan karena kepraktisan. Tapi soal peduli lingkungan dan keberlanjutan.
Pola itu tak bisa lagi jika diterapkan di masa persaingan saat ini. Kini, yang diincar oleh produsen mobil listrik adalah early majority dan late majority. Segmen market yang tak bisa ditawari buaian ramah lingkungan. ”Dan di dua fase itu marketnya sangat mendominasi. Yakni sekitar 60 persen,” paparnya.
Alief memprediksi dengan peningkatan teknologi mobil listrik seperti sekarang ini, orang akan mulai banyak tergoda. Selain harga mobil listrik yang semakin kompetitif, kemudahan yang ditawarkan juga semakin besar.
Saat ini, harus diakui sentimen negatif akan mobil listrik masih menjadi bumbu di kalangan konsumen mobil secara umum. Banyak yang melihat mobil listrik masih menyimpan sejumlah masalah. Misalnya soal daya tahan baterai. Juga soal fasilitas penunjang yang belum lengkap untuk pengisian daya.
Kekurangan itu yang coba ditambal oleh produsen mobil listrik dengan sejumlah inovasi. Di antaranya seperti jangkauan daya baterai dan termasuk waktu pengisian yang semakin singkat.
Alief sendiri yakin, perkembangan mobil listrik ke depan semakin pesat meski masih menemui sejumlah kendala.
Ada beberapa alasan yang menjadi pemicu mobil listrik akan berkembang. Pertama soal isu energi terbarukan yang terus berkembang di banyak negara. Selain itu, juga soal tantangan limbah mobil listrik, utamanya baterai yang sudah mulai teratasi.
Dia menyebut, di beberapa negara saat ini sudah ada perusahaan yang menampung baterai bekas mobil listrik. Kemudian diolah dan dijadikan panel surya. Langkah itu secara tidak langsung akan mengurangi kekhawatiran konsumen mobil listrik saat ini. Bahwa limbah baterai mobil listrik dapat merusak lingkungan karena tak dapat diolah. (Editor: Doan Widhiandono)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: