Perampokan-Pembunuhan di Rumah Dokter di Aceh: Pelaku Serampangan

Perampokan-Pembunuhan di Rumah Dokter di Aceh: Pelaku Serampangan

ILUSTRASI Perampokan-Pembunuhan di Rumah Dokter di Aceh: Pelaku Serampangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

”Saya bisa melakukannya dengan mata tertutup,” kata seorang mantan perampok kepada Nee selama wawancara dalam penjara. ”Pencarian menjadi naluri alami, seperti operasi militer.” Begitulah deskripsi perampok lain. 

Hasil riset itu menunjukkan bahwa perampok bukan seperti anggapan orang, bahwa perampok orang bodoh atau berpendidikan rendah. Sebaliknya, Nee berpendapat, perampok punya ”pilot otomatis” di otak mereka. 

Dengan begitu, ketika merampok, mereka bertindak terarah dan efisien. Membuat waktu perampokan berlangsung cepat dan efektif.

Semua perampok berusaha menghindari penghuni rumah. Kalau bisa, mereka merampok rumah kosong. Tujuan mereka cuma mencuri harta. Bukan menyerang penghuni rumah.

Jika perampok kepergok, bisa berbahaya bagi penghuni rumah. Bahayanya, karena perampok kaget dan penghuni kaget campur takut. Itu situasi krusial bagi kedua pihak. Korban takut dibunuh, pelaku takut korban berteriak dan massa datang menyerbu.

Di situ bahayanya. Masyarakat tentu membayangkan jika suatu saat hal itu terjadi. Butuh persiapan agar tidak jadi korban pembunuhan.

Di perampokan rumah Shanti, pelaku tidak seperti digambarkan dalam riset Prof Nee, yang pelakunya bergerak efisien efektif. Bahkan, pelaku D sempat balik masuk rumah korban lagi pada tiga hari setelah perampokan disertai pembunuhan. 

Namun, pelaku di perampokan itu sama dengan perilaku perampok pada umumnya: Hasil rampokan untuk memuaskan hasrat berjudi dan konsumsi narkoba. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: