Perang Malah Bikin Cuan, Pengusaha Sawit dan Batu Bara RI Raup Untung Besar
Harga CPO dan batu bara naik akibat konflik. Indonesia sebagai eksportir utama diuntungkan dari lonjakan harga dan permintaan global.-dok disway-
"Harga minyak mentah yang tinggi meningkatkan keekonomian biodiesel, sehingga mendorong permintaan minyak sawit sebagai bahan baku bahan bakar alternatif," kata Manajer Portofolio Tradeview Capital Neoh Jia Man yang dikutip dari CNBC pada Santu, 29 Maret 2026.
BACA JUGA:Sebulan Perang AS–Israel vs Iran Makin Meluas, Houthi Masuk dan Ancam Jalur Perdagangan Global
BACA JUGA:10 Fakta Sebulan Perang AS–Israel vs Iran yang Mengguncang Timur Tengah dan Dunia
Kenaikan harga itu memberikan dampak positif bagi Indonesia. Posisi sebagai produsen sekaligus eksportir terbesar dunia membuat pelaku usaha sawit menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Data Refinitiv mencatat, pada Jumat 27 Maret 2026 atau sekitar satu bulan sejak konflik dimulai, harga batu bara ditutup di level US$143,85 per ton dengan kenaikan harian 1,3 persen.
Jika dihitung sejak awal konflik, harga batu bara telah melonjak 23,04 persen. Bahkan pada 20 Maret 2026, harga sempat mencapai US$146,5 per ton, yang menjadi level tertinggi sejak Oktober 2024 atau sekitar satu setengah tahun terakhir.
BACA JUGA:Dua Pabrik Baja Terbesar Iran Dibom Israel, IRGC Peringatkan Serangan Balasan
BACA JUGA:Negara kuasai 4,09 Juta Ha Kebun Sawit Ilegal, 900 Ha Dikembalikan Jadi Hutan
Lonjakan ini terjadi karena sejumlah negara kembali beralih ke batu bara sebagai alternatif pengganti minyak yang harganya semakin mahal.Permintaan batu bara yang meningkat tajam membuka peluang besar bagi perusahaan di Indonesia. Kenaikan harga membuat potensi keuntungan dari ekspor ikut meningkat signifikan.
Situasi ini semakin menguat karena adanya peluang kebijakan relaksasi dari pemerintah yang dapat mendukung produksi.
Kementerian ESDM mencatat persetujuan produksi batu bara dalam RKAB 2026 telah mencapai total 580 juta ton.
BACA JUGA:Bos Tambang Batu Bara Masuk Penjara
BACA JUGA:Kuota Produksi Batu Bara Segera Ditambah, Pemerintah Bahas Revisi RKAB Setelah Lebaran
Direktur Jenderal Minerba, Tri Winarno, menyampaikan bahwa proses persetujuan RKAB masih berjalan dan angkanya masih bisa bertambah. Pemerintah juga menargetkan seluruh proses persetujuan dapat segera diselesaikan dalam waktu dekat.
"Kalau menggunaka yang 2026 itu hampir finish. RKAB batu bara sudah 580 juta ton,' kata Tri saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Jumat, 27 Maret 2026. (*)
*) Abidah Hayu Anggonoraras, peserta magang dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: