Sebulan Perang AS–Israel vs Iran Makin Meluas, Houthi Masuk dan Ancam Jalur Perdagangan Global

Sebulan Perang AS–Israel vs Iran Makin Meluas, Houthi Masuk dan Ancam Jalur Perdagangan Global

Ancaman untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu datang dari kelompok Houthi usai gugurnya Perdana Menteri Yaman.-Tangkapan layar-

HARIAN DISWAY - Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memasuki fase baru yang semakin kompleks.

Keterlibatan kelompok Houthi dari Yaman menandai perluasan konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.

Upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan masih berlangsung. Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara berpengaruh di Timur Tengah pada Senin, 30 Maret 2026.

Pertemuan tersebut akan mempertemukan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir untuk membahas pendekatan regional dalam menghentikan konflik.

BACA JUGA:10 Fakta Sebulan Perang AS–Israel vs Iran yang Mengguncang Timur Tengah dan Dunia

BACA JUGA:Dua Pabrik Baja Terbesar Iran Dibom Israel, IRGC Peringatkan Serangan Balasan

Namun, absennya pihak-pihak yang terlibat langsung dalam perang memunculkan keraguan atas efektivitas forum ini, sekaligus mempertanyakan klaim Amerika Serikat mengenai kemajuan jalur diplomatik.

Situasi di lapangan terus memanas. Mengutip The Guardian, Pasukan Houthi, sekutu dekat Iran, mereka telah meluncurkan serangkaian rudal balistik ke "lokasi militer Israel yang sensitif" pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Bahkan, mereka akan melanjutkan operasi militer hingga "agresi" berakhir di semua front.

Di sisi lain, klaim militer Washington juga mendapat sorotan. Meskipun AS menyatakan telah melumpuhkan kekuatan militer Iran, Reuters melaporkan bahwa sumber intelijen menyebut penghancuran yang terjadi baru mencakup sekitar sepertiga dari persenjataan rudal dan drone Iran.

BACA JUGA:Trump dan Tepuk Tangan yang Diatur

BACA JUGA:Menebak-nebak Petinggi Iran yang Diklaim Trump Berdialog dengan AS: Figur Penting dengan Akses Diplomasi

Serangan balasan pun mulai menyasar fasilitas strategis di kawasan Teluk. Media Amerika melaporkan bahwa pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi menjadi target serangan rudal dan drone yang melukai sedikitnya 12 tentara AS, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Selain itu, bandara internasional Kuwait juga terkena serangan drone yang menyebabkan kerusakan signifikan pada sistem radar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: