Board of Peace dan Resiprositas yang Layak Dipertanyakan

Board of Peace dan Resiprositas yang Layak Dipertanyakan

ILUSTRASI Board of Peace dan Resiprositas yang Layak Dipertanyakan.-Arya/AI-Harian Disway -

EKONOMI GLOBAL tidak pernah benar-benar stabil. Ketika satu negara mengubah kebijakan, dampaknya cepat menjalar ke negara lain. Dalam dunia yang saling terhubung, keputusan EKONOMI sering kali berubah menjadi isu geopolitik. 

Tarif adalah contoh yang paling mudah terlihat. Secara teori, tarif adalah instrumen klasik. Ia membuat barang impor lebih mahal untuk melindungi industri domestik. Logikanya sederhana. 

Namun, dalam praktik modern, tarif sering kali melampaui fungsi ekonomi. Ia menjadi alat negosiasi, tekanan politik, bahkan strategi kekuasaan. 

Masalah utamanya bukan sekadar kenaikan harga. Tarif menciptakan ketidakpastian. Pasar tidak menyukai ketidakpastian. Investor menahan langkah. Dunia usaha menunda keputusan. Negara lain menyesuaikan strategi. Reaksi berantai pun terjadi. 

BACA JUGA:Prabowo Subianto Tegaskan Indonesia Tidak Akan Bayar Iuran Board of Peace

BACA JUGA:BEM UGM Sindir Board of Peace Jadi 'Board of Pigs', Singgung Konflik Gaza

Dalam kerangka global, perdagangan internasional sebenarnya diatur oleh prinsip nondiskriminasi melalui World Trade Organization (WTO). Semangatnya adalah menciptakan arena persaingan yang relatif setara. 

Namun, realitas menunjukkan bahwa posisi tawar antarnegara tidak selalu simetris. Negara besar memiliki ruang gerak lebih luas jika dibandingkan dengan negara berkembang.

Di tengah dinamika itu, gagasan stabilisasi global seperti Board of Peace (BoP) menjadi menarik. Secara konseptual, ia mencerminkan upaya menjaga stabilitas melalui dialog dan kerja sama. 

Namun, pertanyaan mendasarnya tetap relevan: seberapa jauh perdamaian ekonomi benar-benar bebas dari kepentingan ekonomi? Hal itu menjadi makin penting ketika dikaitkan dengan agreement on reciprocal trade (ART).

BACA JUGA:MUI Sarankan Indonesia Keluar dari Board of Peace

BACA JUGA:Prabowo Disebut Siap Evaluasi Keanggotaan Indonesia di Board of Peace, Opsi Keluar Ikut Dibahas

Perdagangan resiprokal pada dasarnya berlandaskan fair trade perdagangan yang adil. Resiprositas berarti timbal balik manfaat.

Perjanjian perdagangan resiprokal, termasuk skema agreement on reciprocal trade, sering dipandang sebagai jalan tengah. Secara teori, resiprositas menjanjikan keseimbangan kepentingan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: