Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan
Petrus Dwi, owner Batik Ny. Wida dan seorang karyawan. Kini, usaha Batik Ny. Wida semakin menurun. Bahkan tak ada penerusnya.-Boy Slamet-Harian Disway
Loei Kian Tjhian menyewa bangunan untuk produksi dan berbisnis batik di sekitar Stasiun Sidoarjo. Usaha itu berkembang pesat.
Hingga kemudian terjadi insiden perampokan di rumah tersebut. Lantas nenek Petrus tersebut memutuskan pindah ke Kampung Jetis.
BACA JUGA:Kampung Sukolilo Guyub Selenggarakan Tradisi Kupatan 7 Syawal, Yang Sedang Lewat Juga Ikut Rebutan
BACA JUGA:Posko Mudik Lebaran DPC PDIP Nganjuk Layani Pejuang Rindu Kampung Halaman

Suasana ruang belakang bangunan usaha Batik Ny. Wida. Di situlah tempat produksi batik dilakukan.-Boy Slamet-Harian Disway
Di situ, batiknya mulai mendapat nama besar. Kemudian dikelola atau diteruskan oleh Loei Kian Tjhiang, putranya. Ia menikah dengan ibu Petrus. Lalu berpisah. Hingga menikah kembali dengan Nyonya Wida. Masyarakat kerap memanggilnya dengan nama "Nya Wida."
Jadilah usaha tersebut diberi nama "Batik Ny. Wida". "Dulu sangat sukses. Punya enam puluh karyawan. Setiap tahun kami mengadakan tur luar kota bersama mereka semua. Paling sering ke Selecta," ujarnya.
Ketika usaha itu beralih ke tangan Petrus, muncullah fenomena batik printing. Ongkos produksi semakin tinggi.
Memang Batik Ny. Wida masih mempertahankan kualitas. Tapi kendala itu membuatnya sulit melakukan kegiatan produksi. Situasinya sangat berbeda. Apalagi ditambah pandemi Covid-19.
BACA JUGA:Mengakar untuk Tumbuh, Mbangunredjo Art Festival Suguhkan Performance Art di Jalanan Kampung
BACA JUGA:Rayakan Imlek 2026, Kampung Tambak Bayan Sajikan Penampilan Tari Lintas Budaya
Ongkos produksi jadi masalah pelik. "Membuat batik sama seperti membuat mobil. Dari kain putih, bahan pewarnaan, pokoknya setiap proses butuh uang. Otomatis harganya juga mahal. Tapi kualitasnya jangan ditanya. Beda jauh dengan batik printing," ujar pria 72 tahun itu.
Dulu, kain batik Ny. Wida jadi kebanggaan. "Warnanya tidak ada yang menyamai. Tahan lama. Customer kami berasal dari berbagai daerah. Seperti di Madura. Di sana, kain batik kami jadi kebanggaan tersendiri," kenangnya.
Sebab, ia menggunakan alat-alat khusus yang lebih modern. Seperti cold press atau mesin tekan. Gunanya untuk melunturkan malam.
"Kami masih punya alat itu. Diproduksi tahun 1950an. Keunggulannya lebih rapi. Malam pada kain dapat luntur sepenuhnya," terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway