Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan

Petrus Dwi, owner Batik Ny. Wida dan seorang karyawan. Kini, usaha Batik Ny. Wida semakin menurun. Bahkan tak ada penerusnya.-Boy Slamet-Harian Disway

BACA JUGA:Kampung Pecinan Tambak Bayan Bersolek Sambut Imlek 2026, Susun Lini Masa Autentik

BACA JUGA:Pembebasan Lahan Kampung Taman Pelangi Surabaya Tuntas, Fly Over Segera Dibangun

Berbeda dengan proses pelorotan malam dengan cara klasik. Yakni dipukul menggunakan kayu. Jika tidak hati-hati, serat kainnya bisa putus atau rusak.

"Malam yang kami gunakan berasal dari sarang lebah. Proses penyuciannya bisa berlangsung selama dua minggu," katanya.

Termasuk "diketel". Yakni merendam kain batik dengan minyak kacang. Itu dilakukan agar serat-serat kainnya bagus, halus, dan rapi.

"Seperti sudah saya bilang, tiap prosesnya butuh dana besar. Kami juga tidak mungkin membuat hanya 1 buah. Tiap 1 pesanan perlu membuat banyak. Karena bahan-bahannya akan mubazir bila hanya membuat satu saja," ujar pemilik nama Tionghoa Loei Tjhing Kwie itu.


Alat press berusia tua yang dimiliki Batik Ny. Wida di Jetis, Sidoarjo. Digunakan untuk melorot malam pada kain.-Boy Slamet-Harian Disway

BACA JUGA:Masjid Wal Adhuna Jadi Saksi Bisu Tenggelamnya Kampung Nelayan di Muara Baru

BACA JUGA:Mbangunrejo Art Festival 2025, Berbagai Pentas Seni Tampilkan Wajah Baru Kampung Bangunrejo

Kendala-kendala itulah yang membuat pemasukan Batik Ny. Wida terus menurun. Bila dulu toko listrik disokong usaha batik, kini, usaha batik yang disokong toko listrik.

"Begitulah kenyataan saat ini. Dukungan pemerintah pun masih minim. Kami seperti dibiarkan mati perlahan," keluhnya.

Setelah Petrus, praktis Batik Ny. Wida akan tutup selamanya. Sebab, ketiga anaknya tak ada yang mau meneruskan. "Ngapain diteruskan kalau tidak ada untungnya? Yang ada malah rugi," tukasnya. 

Ia sejenak menghela napas. Pandangannya menerawang. Kosong. Lalu berkata lirih, "Batik di kampung ini menuju kematian. Kalau tidak ada tindak lanjut, sama saja hidup segan mati enggan." (*)

*Ada bantuan, tapi urusan pembeli cari sendiri-sendiri, baca seri selanjutnya...

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway