Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan
Petrus Dwi, owner Batik Ny. Wida dan seorang karyawan. Kini, usaha Batik Ny. Wida semakin menurun. Bahkan tak ada penerusnya.-Boy Slamet-Harian Disway
Di balik kisah kejayaan Kampung Batik Jetis, ada satu yang tak boleh dilewatkan: pebatik Tionghoa. Dulu yang tenar adalah Batik Ny. Rogat. Kemudian Batik Ny. Wida yang sampai kini masih ada penerusnya. Generasi ketiga. Sekaligus pamungkas. Setelahnya tinggal cerita.
Kampung Batik Jetis pernah punya pengusaha batik Tionghoa. Namanya Ny. Rogat. Dulu, sosoknya membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Pun, mempekerjakan pebatik-pebatik sekitar. Namun, usaha Ny. Rogat telah bangkrut sejak lama. Tak ada yang tahu persis penyebabnya.
Nama kedua, Batik Ny. Wida. Hingga kini, usaha batiknya masih ada. Rinaldi Kurnia, pebatik muda dari Batik Namiroh, mengajak Harian Disway mengunjungi rumah produksi batik Ny. Wida. Di bagian depan terdapat toko alat-alat listrik. Kami masuk ke dalam. Melewati lorong sempit di sisi kanan.
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (3): Kampung Batik Jetis, Canting Punya Nilai Seni
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (2): Kampung Batik Jetis, Musala Tiap Gang dan Jejak Dakwah Islam
Kemudian sampailah pada ruang belakang yang cukup luas. Di situ terdapat blandongan-blandongan atau kolam berukuran cukup besar.

Bahan khusus yang digunakan sebagai warna batik oleh Batik Ny. Wida. Petrus Dwi menyebut bahwa bahan-bahan itu kini semakin susah dicari. Harganya pun mahal.-Boy Slamet-Harian Disway
Sebagai tempat untuk mewarnai kain batik. Seorang karyawan tampak menekuni kegiatan mencanting. Di sekelilingnya terdapat lembaran-lembaran kain batik berwarna cerah.
Di salah satu sudut terdapat mesin press yang tampak kuno. Ada juga mesin press giling. Sepertinya peninggalan kolonial.
Pemilik usaha batik Ny. Wida bernama Petrus Dwi. Ia begitu bersemangat ketika bercerita tentang sejarah usahanya. Terutama saat menceritakan dua generasi di atasnya. Juga kebesaran Batik Ny. Wida masa silam.
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya
BACA JUGA:BRI Sukseskan Desa BRILiaN, Kampung Koboi Tugu Selatan Melejit di Bogor
Namun, ekspresinya berubah ketika bicara tentang fakta saat ini. Bahwa ialah generasi ketiga sekaligus generasi terakhir pengelola batik Ny. Wida. Tak ada penerusnya.
"Jadi, awal usaha batik dirintis oleh Loei Kian Tjhian. Nenek saya. Beliau orang asli Tuban. Belajar membatik di Solo. Datang ke sini membawa keragaman corak motif. Semakin berkembanglah kreasi Batik Jetis. Terutama kekhasan usaha ini," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway