Israel Ungkap Rencana Duduki Lebanon Selatan Secara Permanen, Menhan Lebanon Marah
Wilayah Lebanon selatan yang dijaga oleh pasukan perdamaian interim PBB (UNIFIL). Israel mengancam akan menduduki wilayah tersebut bahkan setelah perang berakhir-Kandice Ardiel/UN/UNIFIL-
HARIAN DISWAY - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukan pertahanan Israel (IDF) akan menduduki sebagian wilayah selatan Lebanon bahkan setelah perang melawan Hizbullah berakhir.
Pernyataan ini menjadi sinyal paling jelas mengenai niat pendudukan Israel sejak konflik Timur Tengah meluas ke Lebanon sejak 2 Maret 2026.
Rencana tersebut langsung memicu kecaman keras dari Menteri Pertahanan Lebanon, Michel Menassa. Ia menegaskan bahwa rencana pendudukan tersebut merupakan bentuk "pendalaman agresi" terhadap kedaulatan negaranya.
Senada dengan hal tersebut, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, turut mengecam pengerahan pasukan Israel melawan target Hizbullah di Lebanon sebagai "invasi ilegal" yang melanggar integritas dan kedaulatan wilayah.
BACA JUGA:Anggota DPR Kecam Serangan Israel ke UNIFIL: Ini Pelanggaran Berat Hukum Internasional!
Di lapangan, situasi semakin memanas setelah serangan Israel menghantam area dekat jalan utama bandara Beirut pada Selasa, 31 Maret 2026. Serangan tersebut menghantam sebuah bangunan tepat setelah militer Israel mengeluarkan peringatan akan menyerang "fasilitas Hizbullah" di lokasi tersebut.
Jalan yang menjadi target merupakan satu-satunya akses menuju fasilitas penumpang internasional di Lebanon.
Lembaga penyiaran AFPTV melaporkan kepulan asap membumbung tinggi dari pinggiran selatan Beirut, yang merupakan basis kuat Hizbullah. Kawasan tersebut kini sebagian besar telah dikosongkan oleh penduduknya sejak permusuhan terbaru meletus.
BACA JUGA:Militer Israel Investigasi Serangan ke Pos UNIFIL di Lebanon Selatan: Belum Tentu Salah Kami
BACA JUGA:Netanyahu: Israel Tak Butuh Izin Serang Gaza dan Lebanon
Kantor Berita Nasional melaporkan bahwa serangan udara Israel terus menggempur wilayah selatan dan area sekitar ibu kota sepanjang hari Selasa.
Eskalasi ini terjadi di tengah pertemuan mendadak Dewan Keamanan PBB setelah tiga personel penjaga perdamaian yang merupakan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) tewas di wilayah selatan Lebanon.
Konflik ini sendiri bermula ketika Hizbullah yang didukung Teheran menarik Lebanon ke dalam peperangan dengan meluncurkan serangan ke Israel. Serangan tersebut dilakukan sebagai aksi balas dendam atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian direspons Israel dengan serangan udara dan operasi darat.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: