Relevansi dan Meritokrasi Pendidikan Tinggi
ILUSTRASI Relevansi dan Meritokrasi Pendidikan Tinggi.-Arya/AI-Harian Disway -
Ketika kampus tertentu menjadi ruang berkumpulnya kelompok sosial yang relatif homogen, misalnya kelas menengah atas, kampus tersebut berperan dalam menghasilkan lulusan serta membangun jejaring kekuasaan masa depan. Relasi pertemanan dapat berkembang menjadi kolaborasi profesional, akses karier, hingga peluang pada posisi strategis.
Dalam konteks ini, capaian setelah kelulusan berkaitan dengan akses terhadap ekosistem yang tidak sepenuhnya merata. Aspek kemampuan tetap penting, tetapi berinteraksi dengan faktor lingkungan sosial yang menyertainya.
Data OECD (2019) menunjukkan bahwa latar belakang sosial-ekonomi tetap menjadi salah satu prediktor kuat bagi peluang kerja dan pendapatan, termasuk setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Hal itu mengindikasikan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berfungsi sebagai instrumen mobilitas sosial yang setara.
Persoalan yang dihadapi melampaui ketimpangan kesempatan dan menyentuh ketimpangan ekosistem. Lingkungan dengan kapital sosial tinggi menyediakan peluang yang lebih luas sekaligus membuka akses pada mekanisme yang mempercepat keberhasilan.
Situasi itu menunjukkan bahwa meritokrasi yang berlangsung merupakan meritokrasi yang dibentuk oleh privilese. Sistem tersebut tampil adil di permukaan, sementara di dalamnya bekerja secara tidak seimbang.
Indikasi empiris atas pergeseran itu juga terlihat dalam QS Graduate Employability Rankings (2022–2024), yang menempatkan indikator seperti employer reputation, alumni outcomes, dan industry linkage sebagai faktor utama dalam menilai kualitas universitas.
Di Indonesia, kecenderungan serupa mulai tampak. Studi Kemendikbudristek dan BPS (2023) menunjukkan variasi preferensi antarsektor.
Yakni, sektor publik masih banyak diisi lulusan PTN, sementara sektor swasta, termasuk perusahaan multinasional dan startup, memberi bobot lebih besar pada pengalaman praktis, eksposur industri, dan kesiapan kerja.
Laporan LinkedIn Economic Graph (2023) juga mengindikasikan bahwa jalur karier di sektor strategis makin dipengaruhi oleh pengalaman magang, proyek industri, dan jejaring profesional sejak masa studi. Pandangan itu selaras dengan Anthony P. Carnevale (2013) yang menekankan pentingnya konteks pengalaman dalam menentukan nilai pendidikan di pasar kerja.
Pelbagai temuan tersebut menunjukkan pola yang konsisten, yakni industri cenderung merekrut lulusan dengan tingkat kesiapan yang tinggi. Kesiapan tersebut terbentuk melalui keterlibatan dalam ekosistem yang hidup dan relevan.
DARI KOMPETISI KE KONEKTIVITAS
Pada titik ini, persoalan menuntut perumusan ulang desain pendidikan tinggi. Fokusnya mengarah pada penguatan ekosistem yang lebih terhubung, adaptif, dan adil, melampaui sekadar kompetisi antarinstitusi.
Negara perlu mengambil peran lebih progresif dengan mendorong model hybrid university, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan kedalaman akademik khas PTN dengan kelincahan dan kedekatan industri yang berkembang di PTS.
Hal itu dapat diwujudkan melalui deregulasi terbatas pada kurikulum, insentif bagi program co-teaching dengan praktisi, serta penguatan skema magang terstruktur lintas kampus.
Pada saat yang sama, akses terhadap ekosistem unggul perlu diperluas secara lebih merata. Program magang berkualitas, jejaring profesional, dan pengalaman industri perlu menjangkau mahasiswa di berbagai wilayah dan latar sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: