Red Bull Racing Hadapi Dilema RB22, Kencang di Lurus, Lemah di Tikungan

Red Bull Racing Hadapi Dilema RB22, Kencang di Lurus, Lemah di Tikungan

Kru Red Bull F1 saat mempersiapkan mobil Max Verstappen (3) di dalam grid, jelang balapan GP Jepang 2026--Twitter This Is Formula 1 @ThisIsFormula1

HARIAN DISWAY - Di balik kekuatan unit daya barunya, Red Bull Racing justru menghadapi dilema besar: mobil RB22 tampil cepat di lintasan lurus, tetapi rapuh dalam keseimbangan bermanuver. Kombinasi ini menciptakan ancaman, atau justru peluang ledakan kinerja performa, jika mereka mampu menemukan solusi tepat sebelum musim berkembang lebih jauh.

Saat ini, jika menilai kinerja keseluruhan mobil RB22, Red Bull Racing dapat diibaratkan sebagai tim dengan dua wajah yang sangat berbeda.

Di satu sisi, unit daya Red Bull Powertrain–Ford terbukti jauh lebih kuat dan andal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Namun di sisi lain, sasis yang diproduksi di Milton Keynes masih belum mencapai standar yang dibutuhkan untuk bersaing setara dengan tim-tim papan atas.

Menurut sumber di paddock, kemungkinan RBPT tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan Peluang Pengembangan dan Peningkatan Tambahan (ADUO). Selisih performa unit daya RBPT dibandingkan mesin Mercedes-AMG Petronas Formula One Team diyakini masih di bawah 2 persen.

Angka ini berbeda dengan Scuderia Ferrari , Honda Racing Corporation , dan Audi yang sudah berada di kisaran 2–4 persen dari Mercedes.

BACA JUGA:Ferrari Siapkan Upgrade Besar SF-26 Jelang GP Miami 2026

BACA JUGA:F1 2026: Jeda April Jadi Penentu Nasib 4 Tim Ini

Artinya, peluang Red Bull untuk mendapatkan tambahan kelonggaran pengembangan guna menutup kesenjangan tersebut terbilang kecil.

Sebaliknya, masalah utama Red Bull justru terletak pada mobil RB22 itu sendiri, khususnya dalam aspek dinamika kendaraan dan aerodinamika.

Dari tiga balapan pembuka musim ini, terutama di GP Jepang, RB22 menunjukkan ketidakstabilan yang cukup jelas antara poros depan dan belakang. Mobil mengalami understeer signifikan pada saat memasuki tikungan, lalu berubah menjadi oversteer ketika keluar tikungan.


Max Verstappen (3), saat beraksi di GP Jepang 2026--Twitter F1 Press @f1press_hk

Selain itu, perubahan karakter yang tiba-tiba tersebut memaksa para pembalapnya untuk melakukan koreksi secara cepat dan berulang, yang tentunya menyulitkan.

Memahami perilaku mobil seperti ini dalam waktu singkat, bukanlah hal yang mudah. Dengan jeda April di kalender 2026 yang relatif singkat, perubahan mekanisme yang besar tampaknya sulit dilakukan. Para insinyur Red Bull membutuhkan analisis yang mendalam untuk memahami respons mobil terhadap berbagai konfigurasi pengaturan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: