Keperkasaan Penyakit Campak

Keperkasaan Penyakit Campak

ILUSTRASI Keperkasaan Penyakit Campak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Enders adalah pemenang Nobel untuk pekerjaannya pada virus polio yang juga membuka jalan untuk campak. Vaksin campak menggunakan virus hidup dilemahkan dengan beragam varian, mulai yang terkuat hingga yang relatif lemah. 

Dahulu pernah ada vaksin campak mati (inactivated), tetapi dihentikan setelah banyak terjadi efek samping. Indonesia di masa lalu memakai vaksin dengan varian yang relatif bukan yang terkuat karena kewaspadaan akan efek samping. 

Saat ini, sejalan dengan keputusan memberikan vaksin rubela yang digabung menjadi satu sediaan di tahun 2017, varian virus campak yang digunakan adalah yang relatif terkuat di dunia. 

Itu menjadi salah satu alasan bahwa efikasi vaksin di Indonesia sebelum era 2017/2018 dan sesudahnya belum tentu setara.

Penyakit campak pernah sangat menurun di dunia. Pada sekitar 2000-an, Benua Amerika dari Alaska di utara hingga Cile di selatan pernah menjadi satu-satunya benua yang dideklarasikan tanpa campak. 

Pada saat itu dunia bergembira karena upaya menjadikan campak sebagai penyakit kelima yang dimusnahkan dari dunia sudah menuju jalur yang benar. Sayang sekali hambatan dan cobaan kemudian datang bertubi-tubi hingga saat ini semua negara dan benua yang pernah dinyatakan bebas campak sudah tidak bebas lagi. 

Keberhasilan membuat bebas campak dan kembalinya virus tersebut terjadi sebagian besar karena masalah vaksin. 

Cakupan imunisasi di berbagai tempat di dunia menurun tajam sehingga beberapa penyakit yang relatif tertaklukkan telah datang kembali. Sekali lagi, persoalannya bukan pada kualitas vaksin, tetapi lebih pada cakupan yang menurun.

Serangan terbesar terjadi pada 1998, ketika seorang dokter dari Inggris, Andrew Wakefield, menuduh vaksin campak sebagai penyebab autis. Belakangan tulisan tersebut kemudian dibatalkan jurnal internasional yang memuat karena terbukti berisi banyak kekeliruan. 

Selain persoalan metodologi penelitian, izin dari subjek penelitian, tujuan pemerasan terhadap perusahaan vaksin, ada lebih dari sepuluh peneliti dan penulis lain yang mengundurkan diri dari artikel kontroversial tersebut karena merasa tidak sesuai dengan pembicaraan awal. 

Wakefield kemudian diadili untuk berbagai pelanggaran dan sempat dipenjara di Inggris karena ada unsur pidana di dalamnya. Izin praktik dicabut permanen dan ia kemudian pindah ke Amerika Serikat yang merupakan surga kelompok antivaksin. 

Efek dari tulisan yang salah tersebut, sekalipun sudah dibatalkan, masih dirasakan hingga saat ini, termasuk di Indonesia yang banyak menggunakan sumber propaganda dari negara maju.

Di negeri kita, cakupan imunisasi mendapat rintangan terutama setelah pandemi Covid-19 mereda dan belum benar pulih hingga hari ini. Yang dituntut dari imunisasi adalah cakupan yang tinggi dan merata sehingga tidak tersisa kantong yang potensial menjadi wabah. 

Wabah campak Indonesia pun, selain beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi lain, terjadi berkali-kali hingga sekarang. 

Korban penyakit menular memang tidak memandang latar belakang. Kali ini yang terkena adalah seorang tenaga kesehatan, besok boleh jadi keluarga kita atau teman kita. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: