Tirani Stimulasi, Kapitalisme Atensi, dan Matinya Detik Kosong

Tirani Stimulasi, Kapitalisme Atensi, dan Matinya Detik Kosong

ILUSTRASI Tirani Stimulasi, Kapitalisme Atensi, dan Matinya Detik Kosong.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Konsep itu lantas bergeser menjadi ennui di kalangan aristokrat pada abad ke-18. Yakni, menjadi simbol status yang menunjukkan kedalaman batin yang tak mampu dipuaskan oleh hiburan duniawi yang dangkal. 

Pun secara biologis. Kondisi ”tidak melakukan apa-apa” itu sebenarnya merupakan aktivitas kognitif yang vital bagi kesehatan jiwa. 

Penemuan default mode network (DMN) oleh neurosaintis Marcus Raichle, misalnya, menunjukkan bahwa saat otak manusia tidak sedang berfokus pada tugas eksternal yang spesifik, itu justru mengaktifkan sirkuit yang sangat kompleks. 

Jaringan tersebut bertanggung jawab atas konsolidasi memori, pengolahan emosi, penilaian moral, hingga imajinasi kreatif. 

Ketika kita duduk diam tanpa rangsangan luar seperti memandang ke luar jendela saat naik bus, misalnya, otak kita sebenarnya sedang melakukan pekerjaan ”pembersihan” dan ”penataan” internal yang memungkinkan kita membangun narasi tentang jati diri yang koheren. 

Namun, tugas vital itu justru kita invasi dengan algoritma ponsel yang secara agresif mengisi setiap celah waktu. Itu mengakibatkan apa yang disebut neurosaintis Maryanne Wolf sebagai erosi ”pemikiran mendalam” (deep thinking). 

Ketika kita secara kompulsif membunuh kebosanan dengan aktivitas menggulir layar (scrolling) tanpa henti, kita sebenarnya sedang melakukan interupsi sinaptik yang terus-menerus. 

Akhirnya mencegah otak masuk ke mode reflektifnya yang paling dalam, yang pada gilirannya membuat kita menjadi cerdas secara superfisial. Mampu memproses ribuan fragmen informasi, tetapi tumpul secara eksistensial. Kehilangan kemampuan untuk merenungkan makna dari setiap informasi tersebut.

Dalam kajian ekonomi media, perampokan keheningan itu bisa dilihat sebagai sebuah desain yang sangat presisi dan sistemis dari kapitalisme atensi. Ya, kini perhatian manusia memang menjadi ”ladang minyak” baru yang dieksploitasi tanpa ampun. Perusahaan teknologi raksasa memanen perhatian kita sebagai komoditas utama yang kemudian dijual kepada pengiklan. 

Keheningan dan detik-detik kosong kita adalah aset internal terakhir yang sedang diperebutkan secara global. Melalui mekanisme dopaminergik yang dijelaskan dalam penelitian P. Read Montague dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience, algoritma media sosial dirancang secara spesifik untuk mengeksploitasi sistem antisipasi otak kita. 

Dopamin bukanlah hormon kepuasan, melainkan hormon pengejaran. Bahkan, dilepaskan saat kita merasa ”sesuatu yang menarik akan terjadi”. Karena itulah, fitur seperti infinite scroll atau autoplay begitu adiktif; mereka menjaga otak kita dalam kondisi antisipasi abadi tanpa pernah memberikan resolusi atau kepuasan sejati. 

Seperti analisis tajam Natasha Dow Schuell dalam Addiction by Design, fitur-fitur media sosial modern mengadopsi logika mekanis dari mesin judi (slot machine) di Las Vegas untuk menciptakan apa yang dia sebut sebagai ”zona mesin”. 

Yakni, sebuah kondisi trans-digital yang membuat individu kehilangan kedaulatan atas waktunya, kesadaran akan tubuhnya, bahkan kemampuan untuk membedakan antara keinginan pribadi dan paksaan algoritma.

Sosiolog Michael Gardiner mencatat bahwa di era digital, kebosanan telah direduksi menjadi kegagalan mental atau dosa ekonomi. Masyarakat kita yang memuja efisiensi menganggap ”tidak melakukan apa-apa” sebagai pemborosan modal manusia. Kita menjadi generasi yang kenyang secara informasi, tetapi menderita malanutrisi imajinasi yang akut.

Dampak sosiologis itu pun mulai merobek kain sosial kita. Byung-Chul Han, penulis Masyarakat Kelelahan, berargumen bahwa kita semua telah beralih dari masyarakat disiplin menjadi ”masyarakat pencapaian” yang mengeksploitasi diri sendiri atas nama optimasi digital. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: