Screen Time Anak: Bukan Soal Gadget, Tetapi Kendali Orang Tua

Screen Time Anak: Bukan Soal Gadget, Tetapi Kendali Orang Tua

Ketegasan orang tua dalam mengatur screen time adalah bentuk kasih sayang yang paling relevan saat ini. -Salman Muhiddin-Nano Banana 2

BACA JUGA:Pagi Berdarah di Bengkalis, Anak Lelaki Bunuh Ayah: Itu Akumulasi Marah

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menggerus kedekatan emosional, mengurangi kepekaan sosial, dan membuat anak lebih akrab dengan perangkat dibandingkan dengan orang-orang terdekatnya. Phubbing berarti mengabaikan orang yang ada di depan kita karena perhatian lebih tertuju pada ponsel. Hal ini juga mengganggu emosi dan interaksi sosial.

Karena itu, panduan dari WHO perlu dibaca dengan jernih. Untuk anak usia dini, WHO sangat tegas. Anak-anak kecil membutuhkan lebih banyak gerak, tidur yang cukup, dan permainan aktif, bukan duduk pasif berlama-lama di depan layar.

Artinya, pembicaraan tentang screen time pada anak tidak bisa hanya dilihat dari sudut hiburan, tetapi harus dikaitkan dengan tumbuh kembang yang sehat. Semakin kecil usia anak, semakin penting kehadiran interaksi nyata dibandingkan paparan digital.

Namun, untuk anak usia sekolah dan remaja, persoalannya lebih kompleks. Tidak cukup mengatakan “dua jam aman” lalu selesai. Yang harus diperhatikan adalah kualitas konten, waktu akses, pengaruh terhadap belajar, pengaruh terhadap kesehatan mental, dan potensi risiko sosialnya.

Di sinilah langkah pemerintah lewat PP TUNAS dan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun menjadi relevan. Negara sedang mengakui bahwa ruang digital modern bukan ruang netral. Ia bisa menjadi ruang belajar, tetapi juga bisa menjadi ruang eksploitasi, ruang manipulasi, bahkan ruang yang merusak keseimbangan psikologis anak.

Tetapi regulasi saja tidak akan cukup. Tantangan sesungguhnya ada di rumah. Banyak orang tua merasa sudah menjalankan tugas hanya dengan berkata, “Jangan terlalu lama main HP.”

BACA JUGA:Dari Gejolak Global ke Dompet Digital: Strategi Indonesia Menjaga Stabilitas di Era Ketidakpastian

BACA JUGA:Ketika Prajurit Gugur, di Mana Negara?

Padahal persoalannya tidak sesederhana lama atau sebentar. Anak bisa saja hanya satu jam menatap layar, tetapi kontennya penuh kekerasan, pornografi terselubung, perundungan, atau pesan-pesan yang mengganggu kesehatan mentalnya.

Sebaliknya, ada anak yang memakai layar untuk belajar, membuat karya, atau berkomunikasi secara sehat. Karena itu, pengasuhan digital harus bergerak dari sekadar pembatasan waktu menuju pengawasan kualitas.

Rumah perlu punya aturan yang jelas. Meja makan harus menjadi zona bebas gawai. Kamar tidur tidak boleh berubah menjadi cabang media sosial. Satu jam sebelum tidur, layar sebaiknya dimatikan.

Orang tua juga harus membedakan screen time untuk belajar dan screen time untuk hiburan. Yang lebih penting lagi, orang tua harus memberi teladan. Sulit meminta anak mengurangi layar bila orang dewasa di rumah sendiri tidak pernah lepas dari ponsel.

Sekolah pun harus ikut mengambil peran. Pendidikan digital bukan hanya soal kemampuan memakai aplikasi, tetapi juga soal etika, disiplin, privasi, keamanan, dan kendali diri. Anak-anak harus dibimbing menjadi pengguna teknologi yang cakap, bukan sekadar konsumen pasif yang diseret algoritma.

Akhirnya, persoalannya memang bukan gadget. Persoalannya adalah kendali. Bila kendali tetap ada di tangan keluarga, sekolah, dan negara, teknologi bisa menjadi alat yang membantu anak tumbuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: