Kebijakan Populis Kikis Prioritas Pendidikan
ILUSTRASI Kebijakan Populis Kikis Prioritas Pendidikan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
PENDIDIKAN sejak lama diyakini sebagai penopang utama kemajuan bangsa. Ia merupakan proses panjang yang membentuk cara berpikir, sikap, dan arah hidup manusia. Karena itu, PENDIDIKAN seharusnya menjadi parameter utama menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka, terwujudnya Generasi Emas 2045.
Namun, dalam praktik kebijakan, posisinya kerap tidak sekuat yang dibayangkan. Ia tetap diakui penting, tetapi mudah tergeser ketika berhadapan dengan program yang hasilnya lebih cepat terlihat.
Belakangan, arah kebijakan publik menunjukkan anomali. Perhatian lebih banyak tertuju pada program yang dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Secara politik, pilihan itu memang masuk akal.
Program yang cepat terlihat hasilnya lebih mudah mendapat dukungan. Namun, di sisi lain, ada konsekuensi yang tidak selalu disadari. Yaitu, berkurangnya perhatian terhadap sektor yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan waktu panjang, yaitu pendidikan yang berkualitas.
BACA JUGA:Pendidikan dan Penguatan Karakter Berbasis MBG
BACA JUGA:Dari Kejahatan Korupsi ke Kebaikan Pendidikan
Pergeseran itu tidak terjadi secara terbuka, tetapi perlahan. Pendidikan tetap berjalan, tetapi tidak lagi menjadi fokus utama. Ia seperti terus bergerak, tetapi tanpa dorongan yang cukup kuat untuk benar-benar maju.
Dalam situasi seperti itu, sulit berharap ada perubahan yang berarti. Sebab, energi pembaruan tidak sepenuhnya hadir.
Ingat, tidak sepenuhnya hadir tidak berarti menafikan bahwa kekuasaan tidak melakukan apa-apa, yang diperbuat bukan pada kepekaan pokok masalah, hanya hegemoni dan seremoni permasalahan semu yang menutupi akar problematika sesungguhnya.
Gejala yang muncul mulai terlihat di ruang-ruang belajar. Isu krisis karakter siswa makin sering dibicarakan. Menurunnya kepekaan sosial, lemahnya etika, hingga kecenderungan berpikir instan menjadi gambaran yang tidak asing.
BACA JUGA:Revitalisasi Sekolah untuk Pendidikan Menumbuhkan
BACA JUGA:Retaknya Tri-Pilar Pendidikan
Tentu hal tersebut bukan kesalahan siswa semata. Ada persoalan yang lebih dalam, yaitu arah pendidikan yang terlalu lama berfokus pada hasil akademik, sementara pembentukan karakter kurang mendapat perhatian yang seimbang.
Di sisi lain, persoalan akses pendidikan juga belum sepenuhnya selesai. Kita memang melihat kemajuan di banyak tempat, terutama di wilayah yang didukung fasilitas dan teknologi. Namun, pada saat yang sama, masih ada anak-anak yang belum menikmati pendidikan secara layak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: