'Kopi Kok Asem?': Mengapa Arabika Sering Kalah Sebelum Diminum
Ilustrasi Arabica vs Robusta.-Salman Muhiddin-Nano Banana 2
Yang perlu diubah bukan lidah masyarakat, melainkan cara kita memperkenalkan rasa. Tidak semua orang harus dipaksa menjadi penikmat specialty coffee. Tetapi publik berhak mengetahui bahwa kopi tidak hanya punya satu bahasa.
Ada kopi yang keras dan menghantam. Ada pula kopi yang mengajak kita berhenti sejenak, lalu mengenali aroma, keasaman, dan lapisan rasanya dengan lebih sabar.
Maka, ketika hari ini arabika masih sering dianggap aneh, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa arabika kalah.
Bisa jadi, selama ini yang menang hanyalah kebiasaan. Dan kebiasaan, seperti pasar, sangat pandai menyamar seolah-olah ia adalah kebenaran.
*) Dekan Fakultas Ekonomi Universitas 45 Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: