Sekolah Garuda dan Ilusi Keunggulan: Membaca Dikotomi Pendidikan Indonesia Melalui Lensa Jacques Derrida
ILUSTRASI Sekolah Garuda dan Ilusi Keunggulan: Membaca Dikotomi Pendidikan Indonesia Melalui Lensa Jacques Derrida.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
DUNIA pendidikan Jawa Timur, khususnya jenjang SMA, baru-baru ini diramaikan dengan edaran nota dinas mengenai Sekolah Garuda Transformasi. Isinya mengundang untuk mendaftar sebagai kandidat Sekolah Garuda Transformasi.
Itu adalah program ambisius yang dirancang untuk menciptakan SMA unggul dengan fokus pada STEM (science, technology, engineering, and mathematics) yang mampu bersaing di taraf global.
Bagi para pendidik yang setiap hari bergelut dengan dinamika ruang kelas, muncul sebuah pertanyaan reflektif: apakah transformasi itu benar-benar menyentuh akar pendidikan atau jangan-jangan kita sedang terjebak dalam permainan dikotomi yang melelahkan?
BACA JUGA:Inilah Komposisi Murid di Sekolah Garuda
JEBAKAN DIKOTOMI: SI UNGGUL DAN SI BIASA
Dalam kacamata filsuf Jacques Derrida, pikiran manusia sering kali terjebak dalam oposisi biner atau dikotomi dua kutub yang saling berlawanan. Ada hitam-putih, pusat-pinggiran, dan kini unggul-nonunggul.
Melalui dikotomi itu, Derrida mengajarkan bahwa sistem pemikiran Barat, termasuk sistem kebijakan modern saat ini, memiliki sistem di mana satu kutubnya selalu diistimewakan, sedangkan kutub lainnya disubordinasi dan disembunyikan.
Yang lebih penting, Derrida menunjukkan bahwa kutub yang diistimewakan itu sesungguhnya tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya bermakna karena ada kutub lain yang ditindasnya.
Program Sekolah Garuda Transformasi adalah contoh nyata dari cara kerja dikotomi semacam itu. Ketika narasi Sekolah Garuda muncul dengan embel-embel ”unggul”, ditambah lagi dengan adanya kriteria seperti akreditasi unggul, sistem berasrama, lulusan yang diterima di perguruan tinggi luar negeri, dan kemampuan bersaing di kancah global.
Program itu secara tidak langsung sedang memproduksi dua kategori yang saling berlawanan, yakni sekolah unggul atau tidak unggul. Lebih jauh, ia bisa bermakna menjadi sekolah yang layak atau tidak layak.
Pemerintah sepertinya tidak pernah belajar dari pengalaman. Kala itu kita pernah memiliki program sekolah unggulan lain, yaitu program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Program tersebut dilakukan di sekolah-sekolah yang dianggap layak demi mengejar gengsi internasional.
Faktanya, RSBI justru melahirkan kesenjangan yang tajam dan pro-kontra yang tak berkesudahan terkait label yang disandangnya. Bukannya meningkatkan mutu secara merata, RSBI justru menciptakan kasta-kasta di dalam satu atap sekolah, memisahkan siswa dalam kelas elite dan kelas biasa.
Sejarah mencatat bahwa program tersebut akhirnya dihentikan karena dianggap inkonstitusional dan diskriminatif. Namun, kini kita seolah sedang melihat pola yang sama muncul lagi dengan nama yang berbeda.
STEM DAN ILMU LAIN YANG TERPINGGIRKAN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: