Cerita Saksi pada Pembunuhan Perempuan di Tangsel: Kisah Peter Pan

Cerita Saksi pada Pembunuhan Perempuan di Tangsel: Kisah Peter Pan

ILUSTRASI Cerita Saksi pada Pembunuhan Perempuan di Tangsel: Kisah Peter Pan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Pria model begitu sudah dikenali di negara-negara Barat sejak abad ke-14. Namun, saat itu belum dirumuskan. Dalam perkembangannya, tahun 1700-an, itu disebut boyman. Pete Newbon dalam bukunya yang berjudul The Boy-Man, Masculinity and Immaturity in the Long Nineteenth Century (2018) menyebutkan hal itu. 

Kemudian, pada 1983 muncul buku fiksi Peter Pan, mempertegas bahwa sangat banyak lelaki dewasa yang pola pikirnya seperti anak-anak. Namun, tentu saja, si pria ogah disebut begitu. Ia bakal malu disebut begitu. Maka, ia sembunyikan rapat.

Meski Sindrom Peter Pan populer di negara-negara Barat, itu bukan diagnosis psikiatri resmi. Sindrom tersebut juga tidak tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5) dan tidak diakui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sindrom Peter Pan akibat didikan yang salah di masa kecil. Akibatnya, setelah dewasa dan menikah, anak lelaki itu menjadikan istrinya sebagai ibunya. Ia bergantung (apa saja) kepada istrinya. Maunya selalu dilayani sepenuhnya, seperti saat ia masih kecil dulu. Ia merasa nyaman hidup begitu.

Apa tanda-tandanya?

Feuerman mengurai beberapa indikator. Namun, yang paling dominan dia jelaskan, begini:

Peter Pan punya hubungan yang intens dan disfungsional dengan orang tua mereka di masa kecil dahulu. Terutama, berhubungan dengan ibu mereka.

Dinamika yang tidak sehat itu dimulai sejak masa kanak-kanak. Disebut sebagai keterikatan yang berlebihan (enmeshment). Ketika seorang pria terikat secara berlebihan dengan ibunya, ia akan terus bergantung pada ibu untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, praktis, dan finansial. Setelah menikah, ia menjadikan istri sebagai peran ibunya. Seperti Peter Pan.

Feuerman menyatakan kepada para istri yang punya Peter Pan: ”Anda tidak bertanggung jawab untuk mengubah perilaku suami. Jika seandainya Anda menetapkan batasan, pun tidak akan menyembuhkan perilaku Peter Pan.”

Dilanjut: ”Namun, Anda dapat mendukung mereka saat mereka berupaya melakukan perubahan. Caranya, libatkan konsultan pernikahan yang ahli. Anda dan suami terlibat bersama konsultan. Itu akan sembuh.”

Itu di AS, negara kaya dengan masyarakat relatif kaya. Di Indonesia yang mayoritas rakyatnya hidup miskin dan kurang pendidikan, Peter Pan tak diketahui. Apalagi, jika si Peter menyamar sebagai pria macho. Bakal lebih sulit mendeteksi.

Kalau perempuan sudah telanjur menikah dengan si Peter, juga umumnya si perempuan tidak sadar bahwa jika hal itu diungkap dalam caci maki (secara tidak sadar) terhadap suami, bisa bahaya. Bisa terjadi pembunuhan. Peter Pan, meski berjiwa anak-anak, memiliki otot orang dewasa. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: