DPRD Gresik Dorong Pesantren Melek Teknologi Hadapi Era Digital: Cara Dakwah Harus Melek Digital
KETUA DPRD GRESIK Muhammad Syahrul Munir (empat dari kanan) ketika menghadiri pembukaan Santri Fest 2025 di Kecamatan Benjeng. Gresik.-Dok. Syahrul Munir-
Syahrul menilai, pendekatan kolaboratif menjadi kunci karena transformasi digital tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan ekosistem yang saling mendukung agar pesantren mampu beradaptasi secara berkelanjutan.
“Pesantren harus masuk ke ekosistem digital. Tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.
BACA JUGA:DPRD Gresik Gandeng Dinkes Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan Bawean: Alokasikan Anggaran Khusus
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara modernisasi dan nilai tradisional. Digitalisasi tidak boleh menghilangkan karakter utama pesantren sebagai pusat pendidikan akhlak dan moral.
“Teknologi itu alat. Nilai-nilai pesantren tetap harus menjadi fondasi,” katanya.
Dalam konteks pembangunan daerah, peran santri juga dinilai semakin luas. Tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga di sektor industri, pemerintahan, hingga kewirausahaan. Digitalisasi membuka peluang baru bagi santri untuk berkontribusi di berbagai bidang.
“Semua punya peluang yang sama. Tinggal bagaimana santri bisa bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan daerah,” ujar Syahrul.
Ia menambahkan, Gresik sebagai kawasan industri dengan investasi besar membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif. Santri diharapkan mampu mengambil peran dalam dinamika tersebut.
“Santri harus menentukan posisi: mau di industri, pemerintahan, atau sektor lain. Potensinya besar,” katanya.

DISKUSI SANTRI Pondok Modern Sunanul Muhtadin, Sidayu, Gresik, dengan Dr Jazilul Fawaid (Gus Jazil), Wakil Ketua MPR RI yang juga pendiri pondok tersebut.-Dok. Pondok Modern Sunanul Muhtadin-
Namun, ia kembali menegaskan bahwa kesiapan menghadapi era digital harus dibarengi dengan literasi yang kuat. Penggunaan teknologi tanpa pemahaman yang baik justru berpotensi menimbulkan masalah baru, termasuk penyebaran informasi yang tidak akurat.
Karena itu, DPRD mendorong penguatan literasi digital di lingkungan pesantren. Tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga etika dalam bermedia.
“Digitalisasi harus diiringi tanggung jawab. Ini yang penting,” tegasnya.
Ke depan, legislatif akan terus mendorong kebijakan yang mendukung transformasi ini. Harapannya, pesantren di Gresik tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam pengembangan pendidikan berbasis nilai dan teknologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: