DPRD Gresik Dorong Pesantren Melek Teknologi Hadapi Era Digital: Cara Dakwah Harus Melek Digital

DPRD Gresik Dorong Pesantren Melek Teknologi Hadapi Era Digital: Cara Dakwah Harus Melek Digital

KETUA DPRD GRESIK Muhammad Syahrul Munir (empat dari kanan) ketika menghadiri pembukaan Santri Fest 2025 di Kecamatan Benjeng. Gresik.-Dok. Syahrul Munir-

Transformasi digital menjadi tantangan baru bagi pesantren di Kabupaten Gresik. DPRD mendorong lembaga pendidikan berbasis keagamaan itu untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar keislaman.

KETUA DPRD Kabupaten Gresik Muhammad Syahrul Munir menilai, perubahan zaman menuntut pesantren tidak hanya kuat dalam aspek keilmuan agama, tetapi juga memiliki kapasitas teknologi. “Tantangan kita ke depan adalah digitalisasi,” ujarnya kepada Harian Disway, Sabtu, 18 April 2026.

Menurut dia, ada dua langkah utama yang harus dilakukan. Pertama, metode dakwah harus menyesuaikan perkembangan teknologi. Kedua, pemanfaatan media digital harus diarahkan untuk kepentingan positif.

“Cara dakwah kita harus melek digital. Memanfaatkan media sosial secara maksimal untuk kebaikan. Jangan sampai disalahgunakan, apalagi untuk menyebarkan hoaks yang tidak jelas asal-usul dan kebenarannya,” tegasnya.

BACA JUGA:Perda Ketenagakerjaan Dorong Serapan Tenaga Lokal: DPRD Gresik Soroti Kesenjangan Kompetensi

BACA JUGA:DPRD Gresik Kawal Implementasi Perda Pekerja Migran: Tingkatkan Literasi demi Migrasi Aman

Syahrul mengingatkan, derasnya arus informasi di era digital membawa risiko besar jika tidak diimbangi literasi yang memadai. Pesantren, dengan basis moral yang kuat, dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga ruang digital tetap sehat.

Ia melihat, sebagian pesantren di Gresik mulai bergerak ke arah digitalisasi. Sejumlah inisiatif telah muncul, mulai dari pengembangan konten dakwah di media sosial hingga integrasi teknologi dalam sistem pembelajaran.

Beberapa pesantren bahkan mengembangkan keahlian digital secara spesifik, seperti desain grafis, coding, produksi video, hingga animasi. Ada pula yang membangun ekosistem kewirausahaan digital untuk memberdayakan santri.

Namun, Syahrul mengakui, proses transformasi ini belum merata. Masih terdapat kesenjangan kemampuan antar pesantren, terutama terkait akses infrastruktur dan sumber daya manusia.


Grafis by Arya--

“Kesenjangan itu ada. Tidak semua pesantren punya akses dan kemampuan yang sama. Ini yang harus kita dorong bersama,” katanya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah mendorong berbagai program pendukung. Salah satunya melalui pelatihan keterampilan digital bagi santri dan pengelola pesantren. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas sekaligus membuka peluang baru di sektor ekonomi digital.

Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak juga diperkuat. Pesantren didorong bekerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas teknologi, hingga dunia industri untuk mempercepat proses adaptasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: