Pembatasan Media Sosial untuk Anak: Perlindungan atau Pengekangan Kebebasan?
ILUSTRASI Pembatasan Media Sosial untuk Anak: Perlindungan atau Pengekangan Kebebasan?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
DI ruang-ruang keluarga hari ini, percakapan tentang anak tidak lagi hanya berkisar pada sekolah, pergaulan, atau masa depan. Ia telah bergeser ke layar –ke notifikasi yang tak henti, ke video pendek yang terus bergulir, dan ke dunia digital yang nyaris tanpa batas. Di sanalah anak-anak kini tumbuh, belajar, sekaligus terpapar.
Pertanyaannya menjadi makin relevan: ketika negara dan orang tua membatasi akses media sosial bagi anak, apakah itu bentuk perlindungan yang diperlukan atau justru pengekangan kebebasan yang berlebihan?
Isu itu bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal bagaimana kita memahami anak sebagai manusia dalam konteks zaman yang berubah cepat.
Sejumlah negara telah mengambil langkah tegas. Australia, misalnya, mendorong pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia tertentu, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan mental generasi muda.
BACA JUGA:Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural
BACA JUGA:Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda
Spanyol dan beberapa negara lain juga bergerak ke arah serupa, menetapkan batas usia minimum untuk penggunaan platform digital (Reuters, 2026).
Pendekatan itu berangkat dari satu asumsi dasar: anak adalah kelompok rentan yang perlu dilindungi dari risiko dunia digital –mulai kecanduan, paparan konten negatif, hingga perundungan daring.
Data penelitian mendukung kekhawatiran tersebut. Penggunaan media sosial yang berlebihan pada anak berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, penurunan kualitas tidur, serta gangguan dalam relasi sosial (Jelita et al., 2024).
Di sisi lain, paparan terhadap standar kehidupan yang tidak realistis di media sosial juga mendorong fenomena perbandingan sosial yang dapat merusak kepercayaan diri anak (Fauziah et al., 2020).
BACA JUGA:Menanti Strategi Eksekusi Komdigi Memblokir Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun
BACA JUGA:Utopia dan Distopia Medsos pada Identitas Remaja
Dalam konteks ini, pembatasan tampak sebagai langkah rasional.
Namun, persoalan tidak berhenti di sana. Pembatasan selalu membawa konsekuensi. Dalam masyarakat demokratis, kebebasan individu –termasuk kebebasan berekspresi dan mengakses informasi– merupakan nilai yang dijunjung tinggi. Pertanyaannya, seberapa jauh kebebasan itu boleh dibatasi, terutama ketika subjeknya adalah anak?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: