Ibu sebagai Penjaga Gerbang Literasi di Era Digital
ILUSTRASI Ibu sebagai Penjaga Gerbang Literasi di Era Digital.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
BERAPA LAMA seorang anak berbicara dengan ibunya dalam sehari? Dan, berapa lama ia berinteraksi dengan layar di tangannya?
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi jawabannya kian mengkhawatirkan. Anak-anak dan remaja hari ini menghabiskan berjam-jam di depan layar. Laporan Common Sense Media menunjukkan bahwa durasi penggunaan media digital remaja dapat melampaui 7–8 jam per hari di luar kebutuhan belajar.
Sementara itu, UNICEF mengingatkan bahwa paparan digital tanpa pendampingan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.
Dalam konteks ini, kita perlu mengakui hadirnya ”aktor baru” dalam kehidupan anak: algoritma. Ia tidak sekadar memilihkan tontonan, tetapi juga menyusun realitas –menentukan apa yang dilihat, diulang, dan diabaikan.
BACA JUGA:Tanah Air Mata Ibu
BACA JUGA:Bahasa Ibu di Era Kecerdasan Buatan
Dalam proses yang nyaris tak disadari, algoritma membentuk preferensi, emosi, bahkan cara berpikir. Ia telah menjelma menjadi pengasuh sunyi yang hadir lebih lama dan lebih konsisten daripada orang tua.
ANAK DALAM ASUHAN ALGORITMA
Dunia digital kini bukan lagi ruang tambahan, melainkan ruang hidup utama bagi banyak anak. Sejak bangun hingga tidur kembali, layar menjadi teman yang selalu tersedia –responsif dan tanpa jeda.
Di balik kenyamanan itu, algoritma bekerja dengan logika ekonomi perhatian: mempertahankan keterlibatan selama mungkin. Ia mempelajari kebiasaan anak, lalu menyajikan konten yang makin personal dan sulit ditinggalkan.
Kajian dalam bidang psikologi media menunjukkan bahwa paparan konten yang dipersonalisasi secara terus-menerus dapat memperkuat preferensi sekaligus mempersempit perspektif.
Akibatnya, algoritma tidak hanya menghibur, tetapi juga ”mengasuh”: membentuk kebiasaan, memengaruhi emosi, dan membangun pola pikir. Masalahnya, anak tidak menyadari bahwa yang mereka lihat bukanlah realitas utuh.
Dalam jangka panjang, kondisi itu berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis dan refleksi diri.
PERGESERAN RELASI KELUARGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: